|
Paul si Gurita Peramal Piala Dunia
Selama 1 bulan yang lalu setiap jam pulang kantor menjelang pukul enam sore jalanan kota Jakarta terasa sangat padat melebihi biasanya. Mungkin karena masyarakat berbondong-bondong menyerbu café-café untuk ‘nonton bareng’ pertandingan Piala dunia.
Selama 1 bulan seluruh dunia terserang demam Piala Dunia, termasuk juga negara-negara yang tidak ikut serta dalam pertandingan tersebut, seperti Indonesia. Setiap hari café-café penuh sesak oleh pengunjung bahkan hingga dini hari, bendera-bendera Negara dan gambar kaos pemain yang dijagokan menghiasi foto profil berbagai situs pertemanan, obrolan yang terdengar di dunia maya dan dunia nyata dimana saja selalu seputar Piala Dunia, bahkan para wanita pun ikut-ikutan menonton meskipun hanya untuk menemani sang kekasih atau pasangan, ataupun hanya untuk melihat wajah tampan para pemain bola yang disegani.
Meskipun Piala Dunia sudah berakhir beberapa hari yang lalu, namun dampaknya masih dirasakan, terutama oleh mereka yang bertaruh menjagokan tim andalannya. Bagi yang menang, mungkin saat ini sedang bergembira menikmati hasil taruhan, namun bagi yang kalah mungkin saat ini sedang meratapi berlalunya euforia Piala Dunia yang menyisakan hutang yang perlu dilunasi.
Lucunya, dukungan bagi tim andalan pada Piala Dunia kali ini mungkin dipengaruhi oleh ramalan berbagai hewan yang ikut meramaikan suasana. Mulai dari landak, kuda nil, monyet, parkit, dan yang paling tenar diantaranya adalah Paul si Gurita Peramal yang meramalkan kemenangan berbagai tim, salah satunya kemenangan Spanyol pada pertandingan final yang lalu. Tak sedikit orang yang memilih tim andalannya berdasarkan ramalan Paul, hanya karena kehebohan beritanya di media.
Gurita yang tenar karena pemberitaan media ini masih diberitakan sampai sekarang, meskipun Piala Dunia sudah berakhir. Berkat media, gurita penghuni akuarium di Sea Life Center di Oberhausen, Jerman, ini dikenal seluruh dunia dalam sekejap mata, dan orang-orang percaya padanya. Mungkin kita anak-anak terang, perlu belajar juga dari gurita Paul, bagaimana memanfaatkan kekuatan media untuk kemuliaan Tuhan, sebagaimana tujuan awal media pada mulanya (baca: Jauh Sebelum Ariel dan Luna Maya).
--Ria J.Harlie
|
|