HOME    NEWS    COVER STORY    COLUMNIS    SUBSCRIPTION    SPONSORSHIP    CONTACT US   
» Memahami Makna Sebenarnya Pendidikan…
» Assosiasi Pendidikan Bethel Mengentas…
» Praise from Down Under
» Salt and Light (II)
» Misi Seperti Apa yang…

Salt and Light (II)

Di bagian pertama dari pembahasan kita mengenai topik ini, kita diperkenalkan kepada suatu konsep yang saya sebut sebagai “pendekatan non antagonis”, dengan jalan menjadi suara kenabian di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Konsep ini mengharuskan kita untuk secara langsung mengkonfrontir dunia sekeliling kita beserta kebudayaan yang ada di dalamnya. Tokoh-tokoh Alkitab sep­erti Yusuf, Daniel dan Esther merupakan contoh dari mereka yang sukses menerapkan konsep ini. Alasannya adalah mereka memiliki pengertian yang benar tentang sebuah prinsip dasar, yang mana “hubungan” selalu mendahului “pelayanan”.


Salt and Light (II)

Rev. Kong Hee

REV. KONG HEE adalah pendiri dan gembala senior dari gere­ja City Harvest Church Singapore. Ia juga adalah pendiri City Harvest Bible Training Centre (1994), Harvest Times magazine (1999), City Harvest Education Centre (2002), serta O’School.

Daniel Menjadi Terhubung Dengan Ke­budayaan Sekitarnya.

Bersama dengan Nuh dan Ayub, Daniel merupakan salah seorang yang dikenal dengan keteguhannya dalam memegang prinsip kebenaran Firman Tuhan (Yehezkiel 14:14, 20). Perlu diketahui bahwa Daniel masih berusia sembilan tahun ketika ia diangkut sebagai tawanan, ber­sama orang-orang Israel lainnya ke negara Babel. Namun meskipun menyandang status sebagai Yahudi tawanan, Daniel berhasil melesatkan karirnya secara kilat sampai ia menduduki pos nomor dua, sebagai penasehat utama Raja Nebukadnezar. Pertanyaannya jelas. Bagaimana mungkin? Daniel adalah seorang yang sangat rohani, namun perhati­kan bahwa bukan kerohanian Daniel yang justru menarik perhatian Raja Babel tersebut. Dalam kitab Daniel 1:4 tergambar lima hal utama mengapa Daniel bisa menan­capkan eksistensinya di tengah sebuah bangsa penjajah.

Daniel sempurna dalam penampilan fisiknya.

Ini berarti ia adalah seorang pemuda yang sangat se­hat. Merupakan hal yang sangat penting untuk kita yang hidup di jaman ini, menjaga kebugaran tubuh jasmaniah kita. Bagaimana mungkin kita akan berprestasi dalam hidup jika kita adalah orang yang sakit-sakitan? Itu juga sebabnya Yesus datang untuk menyembuhkan kita dari ikatan sakit-penyakit. Kita tidak harus mati karena ku­tukan penyakit yang demikian berat, tapi kita harus bisa menjadi kuat dan sehat untuk melayani Tuhan sepanjang kehidupan kita masing-masing. Amsal 20:29 berkata, “Kemuliaan orang muda adalah kekuatannya.” Ketahui­lah bahwa melayani Tuhan merupakan pekerjaan yang melelahkan. Kita perlu untuk makan secara baik dan menjaga kebugaran secara teratur.Tidak ada hal baik yang kita lakukan jika tubuh kita terus dicekoki dengan lemak yang terus tertimbun, tekanan darah tinggi, atau menjadi orang yang rentan dengan penyakit apa saja. Ingat bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus.

Daniel adalah seorang yang tampan.

Daniel bukan seorang pesolek, tapi ia berdandan de-ngan sangat baik. Sayang sekali bahwa banyak orang Kris­ten yang mencela hal ini. Mereka berkata, “Itu tidak perlu karena kecantikan dan ketampanan hanya sementara saja. Keindahan yang sejati adalah hati yang benar dan tulus.” Hal ini tidak salah. Namun di lain pihak, Alkitab juga dengan jelas berkata bahwa Tuhan melihat hati, namun jangan lupa bahwa manusia atau dunia tetap melihat rupa kita (1 Samuel 16:7). Penjelasannya seperti ini…

Baca artikel ini selengkapanya pada majalah Charisma Indonesia edisi April-Mei 2010.

Dapatkan pengajaran Rev. Kong Hee yang begitu memberkati pada Charisma Indonesia di setiap edisinya.



   
home | news | columnis | cover story | subscription | contact us | Login Email Charisma