|
Ada kemuliaan di balik penderitaan
Penderitaan juga terjadi dengan suatu maksud untuk memurnikan kita seperti layaknya melebur emas sampai memperoleh tingkat kemurnian yang sangat tinggi.
Dalam II Timotius 3:12 dikatakan bahwa setiap orang yang ingin hidup beribadah harus menderita dengan satu alasan, yaitu semua manusia telah terlahir dari dalam daging yang menyebabkan kemauan manusia selalu akan cenderung mengarah kepada perbuatan dosa. Kitab Galatia berkata bahwa terjadi sebuah pergumulan yang konstan antara keinginan daging melawan keinginan roh. Untuk memunculkan roh sebagai pemenang dan di lain pihak dalam waktu bersamaan mematikan keinginan daging, Bapa mengijinkan penderitaan itu menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah, bukankah dengan kita hidup beribadah kepada Tuhan berarti juga melawan arus dunia dan semua kehendaknya dimana perjalanan melawan arus ini jelas bukan merupakan sesuatu hal yang gampang, ketika kita terhantam oleh arus tersebut. Sementara, tanpa melalui proses ini maka manusia tidak akan pernah terbentuk menjadi anak-anak Kerajaan Bapa yang tangguh.
Penderitaan juga terjadi dengan suatu maksud untuk memurnikan kita seperti layaknya melebur emas sampai memperoleh tingkat kemurnian yang sangat tinggi. Ini juga merupakan sebuah proses pengujian seperti tertulisdalam Amsal 17:3. Sementara 1 Petrus 4:12 dan Yesaya 48:10 berkata bahwa nyala api siksaan itu adalah ujian bagi manusia untuk tujuan pemurnian serta pengujian hati manusia. Berhubungan dengan hati manusia, Alkitab berkata bahwa hati seseorang itu selalu penuh dengan kelicikan dan oleh sebab itu penderitaan dari luar tubuh merupakan salah satu cara untuk mengikis habis setiap hal yang tidak boleh melekat dalam hati kita sebagai anak-anak terang. Mengapa demikian sebab kecenderungan manusia untuk berubah sering kali sangat sulit terjadi sebelum ia mengalami penderitaan secara badani. Sering kita tidak mau membuka hati untuk mengerti bahwa di ujung maksud Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi atas kita yaitu untuk menghindarkan setiap anak Tuhan dari kebinasaan kekal atau dengan kata lain, Tuhan ingin setiap kita masuk dan menikmati kerajaan sorga yang telah Ia sediakan.
Di dalam bagian Alkitab yang lain, 1 Petrus 5:10, Tuhan berkata bahwa penderitaan adalah sarana untuk memperlengkapi, meneguhkan dan menguatkan setiap anak-anak Tuhan. Menghabiskan masa kecil di tengah kancah pertempuran Perang Dunia ke II merupakan hal yang sangat sulit. Waktu itu saya masih kanak-kanak dan mengalami bagaimana susahnya untuk bertahan hidup di pusat pergolakan di wilayah Kalimantan dimana daerah itulah yang pertama diduduki oleh tentara Jepang sebelum masuk ke seluruh wilayah Indonesia. Ketika itu saya harus berjualan pisang goreng bagi pasukan Jepang untuk bertahan hidup sambil membantu orang tua yang tidak mampu. Memasuki masa remaja sampai menjadi seorang pemuda, penderitaan tetap melekat menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidup. Namun justru masa-masa itulah yang mempersiapkan saya untuk menjadi orang yang kuat dan tidak mudah dikalahkan oleh dunia. Waktu-waktu itu adalah masa persiapan saya sebelum memasuki babak baru dalam kehidupan sebagai seorang hamba Tuhan yang nantinya, puluhan tahun kemudian kembali akan mengalami penderitaan yang tidak kalah hebatnya dibanding dengan apa yang saya alami di masa yang lampau.
Ketika pertama kali membuka pelayanan di daerah Tasikmalaya Jawa Barat tahun 1968, yang notabene merupakan pusat gerakan dari geromblan pemberontak Darul Isalam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) di bawah pimpinan Kartosuwiryo, banyak orang tidak setuju dengan keputusan yang saya ambil termasuk gembala saya waktu itu. Secara logika, apa yang mereka pikirkan memang sangat masuk akal karena masuk dengan tujuan memberitakan Injil di daerah seperti itu sama saja dengan menghantar nyawa –dengan kata lain misi itu merupakan sebuah misi bunuh diri-. Apalagi untuk seorang muda yang belum memiliki banyak pengalaman memberitakan Injil di daerah sulit seperti itu. Seiring dengan waktu yang berjalan, memang demikianlah yang terjadi. Penderitaan dan tantangan silih berganti terus berdatangan. Gereja dibakar, dirusak, didemo merupakan hal biasa yang harus dilalui dalam pelayanan kepada Tuhan. Bahkan ketika saya harus dijemput polisi sementara kebaktian berlangsung untuk diperhadapkan kepada anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat kota, harus juga dilewati. Namun sungguh bahwa penderitaan yang saya alami di masa kecil sampai masa remaja, merupakan sesuatu yang mempersiapkan saya untuk menghadapi hal yang lebih besar. Oleh sebab itu, ketika sebuah spanduk besar terpampang di alun-alun kota Tasikmalaya dengan tulisan “Pdt. Julius Ishak harus digantung”, itupun tidak menggoyahkan tekad saya untuk terus melayani orang-orang di daerah itu. Jadi sekali lagi, penderitaan ada untuk meneguhkan,menguatkan serta memperlengkapi kita semua.
Maksud yang lain dari penderitaan adalah untuk menghasilkan ketekunan dan kesabaran seperti yang tertulis dalam kitab Roma 5:3 dan Mazmur 37. Ketika saya akhirnya membulatkan tekad untuk masuk ke Tasikmalaya, gembala saya memberikan sebuah ayat pegangan yang sampai hari ini tidak pernah saya lupakan. Mazmur 126:5 dimana salah satu ayat dalam perikop itu berkata,” Mereka yang berjalan maju sambil menabur benih dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan bersorak sorai.” Salah satu hal yang sangat menarik perhatian saya tentang ayat ini adalah, biasanya ketika manusia berjalan maju dan kemudian harus menangis, maka yang paling sering terjadi adalah kita akan mundur dan kembali ke posisi semula. Tapi Firman Tuhan berkata kebalikannya dimana meski menangis namun tetap maju dan bahkan sambil menabur benih.
Satu hal yang saya harus tegaskan adalah ketika menghadapi penderitaan dan kesengsaraan, jujur secara manusia saya mengalami ketakutan. Merupakan sebuah kebohongan jika ada yang berkata tidak mengalami ketakutan ketika harus melewati masa-masa penderitaan dan kesengsaraan. Apalagi ketika nyawa menjadi taruhannya. Rasa takut merupakan sesuatu yang wajar untuk kita rasakan. Saya mencoba untuk mendefinisikan arti dari kata berani dalam Kristus dan mendapatkan arti dimana berani adalah rasa takut yang disertai dengan doa dan penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan Yesus. Memamg betul banyak yang berdoa ketika masuk dalam penderitaan namun ada langka selanjutnya yang mereka lupakan yaitu penyerahan diri. Makanya meskipun berdoa tetap saja ketakutan tidak bisa disingkirkan. Sebaliknya ketika kita berdoa dan menyerahkan diri, maka kematian pun tidak akan sanggup untuk membuat kita gentar karena jelas Kristus berkata bahwa ada kemuliaan yang menanti kita di balik penderitaan yang harus kita tanggung demi kemuliaan nama Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa kita akan menjadi sewaris dengan Kristus serta akan menerima penghiburan yang berlimpah-limpah selagi kita ada di dalam dunia ini.
Jika kita berani untuk bersama-sama dengan Kristus sebagai ahli waris-Nya, maka kita juga harus berani bersama-sama dengan dia dalam penderitaan-Nya sampai akhirnya kita juga dimuliakan bersama-sama dengan Dia. Oleh sebab itu saya katakan bahwa berdoa dan menyerahkan diri secara total merupakan hal yang teramat penting untuk kita lakukan sebagai anak-anak Tuhan. Yang saya amati saat ini adalah banyak orang hanya menjadi pegawai gereja ketimbang hamba-hamba Tuhan. Paulus menggunakan sebuah ekspresi yang sedikit agak ekstrim ketika ia berkata bahwa banyak manusia yang bertuhankan perut. Ungkapan ini memang tidak enak untuk di dengar namun demikianlah kenyataan hari-hari ini dimana banyak sekali yang menamakan diri hamba Tuhan sebetulnya sedang berusaha untuk mencari hidup saja. Saya sering menekankan kepada calon-calon hamba Tuhan bahwa terjun ke dalam pelayanan bukan untuk mencari hidup tapi untuk mencari jiwa.
Sebab lain mengapa penderitaan itu terjadi adalah untuk menciptakan sifat saling bertolong-tolongan dan menanggung beban bersama-sama seperti tertulis dalam Galatia 6:2. Kecenderungan manusia termasuk orang Kristen adalah menjadi egois dan memikirkan diri sendiri ketika berada dalam masa-masa senang dan bahagia. Saya melihat kesusahan sebagai salah satu peluang untuk sifat bertolong-tolongan muncul menjadi sesuatu yang nyata. Ketika kapal Tampomas II tenggelam di perairan Masalembo Sulawesi Selatan tahun 1980-an, sifat ini benar-benar terlihat. Saat kapal melaju dengan aman, maka para penumpang yang terbagi dan digolongkan dengan kelas-kelas tertentu berdasarkan tingkat kekayaan masing-masing tidak akan pernah terlihat saling peduli. Namun di saat kapal itu mulai tenggelam dan setiap orang mencoba untuk menyelamatkan diri dari maut, sifat bertolong-tolongan jelas terlihat. Di dalam sebuah sekoci penyelamat, tidak ada lagi pembagian kelas VIP, kelas I, kelas II sampai kepada kelas ekonomi. Sebaliknya, dalam ruang sempit sekoci itu terdapat orang kaya, pegawai pemerintah, professional sampai kepada kuli pelabuhan dan juga seorang bibi penjual jamu. Dan semua saling bahu membahu untuk dapat bertahan hidup. Di saat mereka kehabisan air minum semua berharap akan turunnya hujan. Dan memang benar terjadi demikian. Apa yang terjadi adalah karena tidak ada wadah untuk menampung air, maka satu-satunya yang tersedia adalah sarung yang dipakai oleh si bibi penjual jamu. Pada akhirnya semua yang ada si sekoci itu minum dari air yang ditampung di dalam sarung bibi itu. Mana pernah akan terjadi dalam keadaan yang senang dan bahagia, seorang yang kaya raya bersedia minum dari sarung seorang penjual jamu? Bersentuhan pun mungkin tidak akan pernah. Namun itulah penderitaan yang membangun sifat tolong-menolong, kesatuan dan kebersamaan.
Penderitaan juga merupakan peluang untuk mengabarkan Injil Firman Tuhan. Yesaya 60:1-4 berkata bahwa dimana kegelapan datang maka disitu kita memiliki kesempatan untuk membawa terang itu. Namun dalam hal ini gereja Tuhan harus mempersiapkan diri untuk memberikan ruang bagi mereka yang akan berduyun-duyun datang kepada Tuhan, mereka yang berlari dari kegelapan menuju kepada terang yang terpancar dari kehidupan kita. Jangan sampai ketika ada banyak jiwa yang datang malah gereja tidak siap untuk menyambut mereka. Peristiwa pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965 menjadi salah satu lembaran kelam untuk kekristenan di Indonesia. Ada begitu banyak orang-orang yang membanjiri gereja dalam masa yang sangat sulit seperti itu. Namun sayang justru dari mimbar-mimbar gereja, para pendeta menolak dan malah menghimbau untuk berhati-hati dalam menyambut orang-orang ini karena tidak memiliki kesiapan, keberanian dan penyerahan diri secar total. Sungguh ironis.
Ada lima jenis manusia yang saya lihat. Yang pertama adalah jenis manusia yang standard atau normal, yang kedua adalah jenis manusia yang lebih lemah, ketiga adalah golongan manusia yang memiliki kualitas buruk. Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak dipanggil untuk menjadi manusia yang tergabung ke dalam tiga golongan manusia tersebut. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi ciptaan Tuhan yang di atas rata-rata. Ini adalah golongan ke empat, manusia-manusia yang kuat seperti halnya Joshua. Sementara golongan yang terakhir adalah manusia yang luar biasa seperti halnya Daniel yang memiliki roh yang sangat luar biasa (the spirit of excellence). Untuk kedua hal inilah anak-anak Tuhan itu diciptakan yaitu untuk menjadi orang-orang yang kuat dan memiliki roh yang luar biasa. Baik Joshua dan Daniel merupakan orang-orang yang tadinya tidah diharaokan akan muncul menjadi tokoh-tokoh yang hebat dan akan dikenang oleh sejarah kemanusiaan. Namun di tengah-tengah penderitaan dan kesengsaraan, di sanalah Tuhan membentuk mereka menjadi orang-orang yang kuat dan luar biasa. Jadi tujuan dari penderitaan adalah untuk membentuk kita menjadi generasi-generasi yang kuat dan luar biasa, bukan orang-orang yang rata-rata lemah dan buruk.
Ketika orang bertanya kenapa harus ada penderitaan, maka yang saya harus tekankan adalah ketika manusia lahir ke dalam daging, otomatis penderitaan itu juga menjadi bagian dari hidup kita. Karenya tidak ada seorang bayi yang lahir kemudian langsung tertawa. Sebaliknya, hal pertama yang akan dilakukan oleh seorang bayi yang baru lahir adalah menangis karena ini merupakan ciri utama dari penderitaan. Akan tetapi, Bapa kita adalah figure yang sangat luar biasa penuh dengan kasih dan pengampunan. Oleh sebab itu jika kita berada di dalam Kristus Yesus yang telah memerdekakan kita dari kutuk dosa, maka penderitaan itu bisa “disulap” menjadi berkat. Namun jika kita tidak berada di dalam Kristus, maka penderitaan akan tetap tinggal sebagai kutukan bagi siapa saja yang mengalaminya. II Korintus 5:17 berkata bahwa siapa saja yang berada dalam Kristus adalah ciptaan baru. Di sinilah tempat dimana penderitaan yang dialami oleh kita akan menjadi sesuatu yang berarti. Ini juga yang membedakan konsep kekristenan dengan keagamawian. Agama adalah proses manusia mencari Tuhan sedangkan kekristenan adalah proses dimana Tuhan yang mencari manusia. Bapa kita sungguh luar biasa. Inilah mengapa penting untuk kita memahami figur Bapa, jangan melihat Bapa dari sudut pandang keliru sebagai orang kejam yang senang melihat anak-anak Nya menderita. Jadi sekali lagi, penderitaan akan membentuk kita menjadi generasi Joshua dan Daniel.
Suatu ketika seorang jemaat saya yang juga adalah seorang dokter menghampiri saya dan berkata bahwa ia memiliki dua pertanyaan yang tidak pernah terjawab sesuai dengan keinginannya. Pertanyaan pertama adalah jika Tuhan mengetahui manusia akan jatuh ke dalam dosa, mengapa Ia masih menciptakan manusia. Sedangkan pertanyaan yang kedua adalah pada waktu air bah, kenapa Bapa masih menyisakan Nuh dan keluarganya dan sebaliknya tidak memusnahkan semuanya saja. Jawaban saya untuk pertanyaannya yang pertama adalah,” kamu juga tahu bahwa anak kamu pasti akan berdosa, tapi mengapa masih mau punya anak?” Sementara untuk pertanyaan yang kedua saya berkata seperti ini,” Ketika anak kamu melakukan kesalahan, kenapa kamu membiarkan dia untuk hidup, sudah saja dimusnahkan sekalian.” Jemaat ini terdiam dan kemudian berkata,”Iya, meskipun bersalah dia itu tetap merupakan anak saya.” Belajar dari hal ini, kita saja sebagai orang yang berdosa masih bisa menunjukkan kasih kita terhadap anak kita, apalagi Bapa di sorga yang Maha kasih itu. Jadi tidak ada alasan untuk kita menyalahkan Tuhan dalam menjalani penderitaan yang memang akarnya adalah dosa manusia.
Oleh sebab itu sangat penting untuk tidak melihat Firman Tuhan dan keilahian Tuhan melalui kaca mata manusia karena setiap kali kita melakukan demikian, maka kecenderungan yang akan terjadi adalah kita selalu ingin menkondisikan Firman Tuhan itu dengan keinginan serta keadaan daging kita sebagai manusia. Di sinilahperlu adanya satu kedewasaan rohani yang sudah barang tentu tidak terjadi secara instan tetapi harus dibangun lewat pembentukan alamiah yang hanay dapat terjadi dengan pengalaman-pengalaman nyata bersama Tuhan. Ada dua golongan hamba Tuhan yang ada saat ini. Yang pertama adalah hamba Tuhan kejadian dan yang kedua adalah hamba Tuhan keluaran. Hamba Tuhan kejadian adalah orang-orang yang benar-benar mengalami proses dan pembentukan karakter serta mental lewat pengalaman-pengalaman nyata dimana mereka merasakan pertolongan Tuhan. Sementara golongan yang kedua adalah mereka yang menjadi hamba Tuhan karena lulusan atau keluaran dari sekolah-sekolah teologi yang saat ini banyak sekali tersebar di mana saja. Orang-orang jenis ini sedikit sekali memiliki pengalaman hidup nyata bersama Tuhan. Kebanyakan hanya melalui teori pengajaran yang mereka terima dari sekolah Alkitab. Yang ironis sekaranga adalah kecenderungan dimana sekolah Alkitab menggantikan kuasa dari Roh Kudus. Pekerjaan Roh Kudus berganti dengan teori dan filsafat manusia. Oleh sebab itu banyak sekali pengajaran-pengajaran yang aneh keluar dari mimbar-mimbar gereha dimana hikmat manusia lebih berperanb besar dalam menginterpretasikan Firman Tuhan. Tidak jarang hanya terdapat perbedaan yang sangat tipis antara kebenaran Firman Tuhan dengan filsafat manusia. Teologi memang merupakan bagian untuk membuat jiwa dan tubuh kita menjadi pintar, tetapi tetap saja ilmu teologi itu tidak bisa menggantikan roh kita yang hanya bisa dididik oleh Tuhan sendiri. Akibat buruknya adalah sekolah teologi sering membuat orang merasa besar kepala tanpa menyadari bahwa ketergantungan akan Roh Kudus adalah hal yang mutlak untuk dilakukan.
Hadapilah penderitaan dengan kaca mata Tuhan dan bukan manusia. Bersukacitalah senantiasa karena lewat penderitaan akan ada kemuliaan menanti kita semua. Jangan takut menghadapi penderitaan karena janji Tuhan bahwa rancangan-Nya kepada manusia bukan rancangan kecelakaan tetapi rancangan damai sejahtera masih tetap berlaku untuk selama-lamanya. Seperi apa kata kitab Yohanes, kita tidak mengerti apa yang kita alami saat ini namun ada saatnya kita akan diberikan pengertian dimana semua itu mendatangkan kebaikan bagi kita semua.
|
|