HOME    NEWS    COVER STORY    COLUMNIS    SUBSCRIPTION    SPONSORSHIP    CONTACT US   
COLUMNIS
» Mendidik Anak dengan KATA…
» Mendidik Anak dengan SENYUM
» MELINDUNGI ANAK
» MIMPI SANG PENGEMIS
» THE LANGUAGE OF FAITH

Seven Mountain of Culture

Oleh: Adrian Freed

 

            Jika kita membaca dalam kitab Yesaya 2:2, akan memberi kita gambaran bahwa kebudayaan akan dibentuk oleh tujuh gunung yang semua erat kaitannya dengan pola pikir atau paradigma. Praktisnya, jika kita mampu untuk mempengaruhi ketujuh gunung ini dengan nilai-nilai Firman Tuhan, maka secara otomatis musuh atau iblis akan mengalami kekalahan. Tapi tujuh area yang meliputi agama, pendidikan, dunia seni dan hiburan, pemerintahan, bisnis atau dunia kerja serta keluarga, sebetulnya berkaitan dengan kejadian-kejadian di dalam Alkitab.  Ketika Yosua mengelilingi tembok Yerikho sebanyak tujuh kali –angka tujuh dalam kamus Tuhan adalah angka yang melambangkan penyempurnaan, anugerah dan kebesaran-, secara rohani ini melambangan Yosua menjadi lebih besar dari tembok Yerikho tersebut. Apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada umat Tuhan adalah, kita harus menjadi lebih besar dari semua roh-roh yang saat ini menduduki ketujuh gunung pengubah kebudayaan tersebut.

            Dalam Ulangan 7:1 dijelaskan bahwa ada tujuh bangsa yang harus ditaklukan oleh bangsa Israel untuk merebut tanah perjanjian. Mereka itu adalah Het, Girgasi, Amori, Kanaan, Feris dan Hewi. Mengapa Tuhan dengan jelas merujuk kepada tujuh bangsa. Artinya adalah ketujuh bangsa ini mewakili tujuh macam roh yang saat ini menguasai tujuh gunung, yang akan kita rebut kembali buat kemuliaan Tuhan itu. Mereka ini adalah roh-roh jahat yang terus mencoba untuk bertahan di atas gunung-gunung ini dan di waktu yang sama terus mempengaruhi pola pikir siapa saja, apakah itu orang percaya ataupun orang yang tidak percaya Tuhan. Ada satu kebenaran yang harus kita ketahui dimana ketujuh roh jahat ini sebetulnya berada di bawah komando dari roh Isebel. Jadi di atas puncak gunung yang tertinggi ada roh Isebel, sedikit berada di bawah Isebel barulah ketujuh roh-roh yang menguasai tujuh gunung ini.

            Dialah yang saat ini menjadi pemimpin besar yang harus digulingkan. Isebel adalah roh yang menguasai kedagingan dan kesombongan manusia, ia adalah roh yang bekerja lewat keinginan dan gengsi kita. Dan dua hal inilah -lewat manusia-, yang akhirnya mempengaruhi ketujuh area ini. Roh ini sangat ingin untuk diakui keberadaannya, dipenuhi dengan nafsu untuk menguasai apa saja yang ia bisa kuasai, lapar akan kekuasaan, sangat agresif, sombong, egois, rakus akan kemuliaan dan yang paling berbahaya adalah ingin merebut otoritas di semua bidang termasuk di dalam gereja sendiri. Ini yang harus kita ketahui. Merebut ketujuh gunung ini harus dilakukan secara bersama-sama dan jangan sekali-kali mencoba untuk melakukan ini sendirian. Tidak perlu orang Kristen untuk menjadi orang nomor satu tapi yang harus dilakukan adalah berkumpul bersama, buat sebuah jaringan yang kuat, rumuskan strategi apa yang harus dilakukan dan kemudian bersama-sama memberikan pengaruh yang kuat tentang kebenaran Firman Tuhan. Pengaruh (influence) merupakan kata kunci yang harus dilakukan.

            Saudara-saudara dalam Kristus, peperangan melawan roh Isebel ini masih terus berlangsung sampai hari ini. Ia ingin terus menguasai gereja dan dunia di bawah kekuasaannya. Kita umat Tuhan harus menyingkirkan roh ini dari puncak gunung, kemudian turun ke tempat dimana ketujuh roh in bercokol dan menghancurkan mereka, merebut kembali gunung-gunung tersebut. Akhirnya secara perlahan-lahan melalui ketaatan, hubungan yang intim dengan Tuhan serta kepercayaan penuh kepada Tuhan, kita keluar dan mulai memberikan pengaruh di setiap area dalam tujuh gunung tersebut. Setelah itu, kita akan melihat komunitas sedikit demi sedikit mulai mengalami perubahan. Kita tidak bisa memberikan toleransi dalam hal ini.

            Lantas seberapa pentingnya kah pengaruh ini untuk dimiliki oleh setiap anak-anak Tuhan? Ada sebuah prinsip sederhana di balik pentingnya sebuah pengaruh. Kita harus hidup di dalam anugerah Kristus ketimbang hidup dalam hukum (taurat) yang dahulu kita kenal. Kenapa? Ketika Lazarus terbaring dalam kuburnya dengan batu besar yang tertutup, orang-orang Farisi semuanya berada dekat kubur itu. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam hukum taurat namun tidak menghidupinya. Apa yang terjadi kemudian adalah batu besar itu terguling dan orang-orang dapat melihat sebuah anugerah yang begitu besar yang membawa Lazarus kembali dari kematiannya. Hukum (taurat) bertujuan untuk membunuh kedagingan kita sedangkan anugerah adalah sesuatu yang mengangkat roh kita untuk menjadi kuat dalam memberikan pengaruh Kristus di setiap komunitas dimana kita di tempatkan.

            Strategi untuk merebut kembali ketujuh area ini adalah masuklah ke dalam kehidupan roh yang intim dengan Tuhan. Jika tida, maka jangan pernah mencoba untuk masuk dalam peperangan ini. Yang terjadi adalah banyak prajurit-prajurit Tuhan yang mencoba masuk dalam peperangan tanpa pengaruh dan penyertaan Roh Kudus. Akibatnya mereka roboh dan kebanyakan tidak bisa kembali bangkit untuk bertempur. Jadilah intim dengan Tuhan, bangun hubungan dengan Tuhan, dengarkan apa yang Tuhan katakan dan mengertilah strategi Tuhan dan bukan manusia. Kita tidak perlu taku karena bersama dengan Tuhan kita pasti bisa melakukan perkara-perkara besar. Merebut kembali ketujuh area kehidupan, tujuh gunung, tujuh pilar, tujuh kerajaan yang membentuk kebudayaan merupakan tugas yang sangat besar namun tidak berat jika kita melakukannya bersama-sama dengan Tuhan.

            Saya ingin dalam kesempatan ini berterima kasih kepada Charisma Indonesia yang memberikan saya kesempatan untuk berbagi, dan memberkati jemaat Tuhan di Indonesia. Sebagai seorang Yahud asli dari Suku Lewi, saya memiliki mimpi seperti yang Jusuf miliki. Saya juga memiliki mimpi seperti yang Marthin Luther punyai. Merupakan kehormatan untuk saya berada di Indonesia untuk memberkati negara ini dengan apa yang bisa saya lakukan lewat setiap pelayanan saya. Tuhan kiranya memberkati Indonesia.

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Adrian Freed,  adalah seorang Yahudi dari suku Lewi. Ia sudah melayani di Indonesia selama tujuh tahun dalam sebuah wadah pelayanan bernama Transformation Ministry. Pelayanan ini memiliki visi dalam II Korintus 3:18 dan Roma 1:11. Beliau pernah bekerja untuk Kedutaan Inggris di Indonesia sebelum memulai pekerjaannya sebagai Duta Kristus untuk Indonesia. Saat ini berdomisili di Bogor dengan Isteri tercinta Prania Paramitha Freed dan puteri mereka Hanna Paramitha Freed



   
home | news | columnis | cover story | subscription | contact us | Login Email Charisma