|
COLUMNIS
|
Seperti Sarang Laba-Laba
Jellia Puspa Purnama
Pernahkah Saudara memperhatikan laba-laba saat membuat sarangnya? Jika belum, cobalah sesekali waktu perhatikanlah, maka Saudara akan melihat betapa tekunnya laba-laba saat membuat sarangnya. Dia bergerak ke atas, ke bawah, kiri dan kanan dengan seperti tiada henti. Tapi coba Saudara perhatikan seperti apakah kekuatan dari sarang laba-laba? Jika angin kencang bertiup, apakah sarang itu akan bertahan? Jika hujan besar melanda apakah sarang itu tetap kuat ada di sana? Dan jika Saudara membawa sapu atau alat untuk membersihkan sarang laba-laba, apakah sarang itu akan bertahan? Tidak sampai 5 detik, sarang kebanggaan laba-laba itu akan hilang lenyap.
KEPERCAYAAN SEPERTI SARANG LABA-LABA
Ayub 8:13-14 menuliskan “Demikianlah pengalaman semua orang yang melupakan Allah; maka lenyaplah harapan orang fasik, yang andalannya seperti benang laba-laba, kepercayaannya seperti sarang laba-laba.” Jika kita menjadi orang-orang yang melupakan Tuhan, yang tidak menaruh kepercayaan kita sepenuhnya kepada Tuhan, maka kepercayaan kita seperti sarang laba-laba. Sepertinya kokoh tapi sesungguhnya tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Jika seseorang tidak menaruh kepercayaannya kepada Tuhan lalu kepada apa? Banyak hal, ada yang menaruh kepercayaannya kepada harta, ada begitu banyak orang bahkan mungkin sebagian besar orang begitu sibuk menghabiskan waktu dalam hidupnya untuk mengumpulkan harta. Mereka berpikir jika banyak harta maka makin amanlah kehidupannya.
Ada lagi orang yang menaruh kepercayaannya kepada sesama manusia, bukan maksudnya kita harus menjadi orang yang penuh curiga dan waspada kepada sesama manusia, namun jika kita menjadikan manusia sebagai sumber kekuatan dan kehidupan kita sampai-sampai kita lebih takut kepada perkataan sesama manusia dibandingkan perkataan Tuhan, itu berarti kita telah menaruh kepercayaan kepada hal yang salah.
Ada lagi orang yang menaruh kepercayaannya kepada dirinya sendiri. Dia menjadikan dirinya sebagai pusat kehidupannya, pusat kekuatannya. Dia merasa bahwa segalanya ada di dalam dirinya, dia hanya tinggal menggali dan mengembangkan potensi yang ada di dalamnya. Ada lagi orang yang menaruh kepercayaannya kepada dewa-dewa, astrologi-astrologi, ramalan-ramalan dan masih banyak lagi hal-hal di luar Tuhan yang banyak manusia percayai. Tetapi semuanya itu ialah seperti sarang laba-laba.
Sarang laba-laba berarti kepercayaan yang dibangun di luar Tuhan, hal itu sering kali begitu tekun dan setia kita bangun dan persiapkan, tetapi kekuatannya hanya seperti sarang laba-laba. Ayub 8:15 “Ia bersandar pada rumahnya, tetapi rumahnya itu tidak tetap tegak, ia menjadikannya tempat berpegang, tetapi rumah itu tidak tahan.”
Jika kita mengamati perkembangan dunia ini, seharusnya kita sadar bahwa sungguh segala hal yang dibangun di luar Tuhan itu bagaikan sarang laba-laba, bagaikan rumah yang tidak tetap tegak, bagaikan rumah yang tidak dapat dijadikan tempat untuk bertahan. Krisis ekonomi yang melanda dunia, ancaman sakit penyakit dengan perkembangan virus dan bakteri baru yang mengancam kesehatan manusia, krisis sosial politik dan masih banyak hal lainnya lagi membuat kita seharusnya terbangun dan melihat apakah benar hal-hal yang kita percayai selama ini bisa menjadi tempat pertahanan dan perlindungan dari segala hal itu.
KEPERCAYAAN YANG TERUJI
Yesaya 28:16 “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah”
Baru-baru ini Indonesia dihebohkan dengan mobil buatan anak-anak SMK di Solo yang disebut dengan mobil esemka, ada pihak yang menyambut dengan optimis namun tidak sedikit juga pihak-pihak yang menertawakan dan pesimis akan keberadaan mobil esemka. Mengapa demikian? Karena banyak pihak mengatakan mobil tersebut belum teruji kelayakannya terutama dari sisi keselamatannya, sampai-sampai dalam suatu pameran otomotif yang pernah diadakan pada 2 tahun lalu di Jakarta, tidak seorangpun melirik keberadaan mobil esemka. Hal ini berbeda sekali apabila perusahaan mobil ternama mengeluarkan varian terbarunya, tidak ada pihak mempertanyakan kelayakan dan keselamatannya, tapi semua orang seperti berlomba-lomba untuk memilikinya, apalagi jika mobil tersebut dikeluarkan dari negara Eropa. Orang-orang berduit kelas atas seperti tidak ambil pusing lagi untuk memiliki mobil tersebut.
Dari kisah ini kita bisa lihat, seharusnya kita juga berhati-hati untuk meletakkan kepercayaan kita akan sesuatu. Alkitab sudah memperingatkan bahwa kepercayaan yang salah akan membuat kita seperti memiliki rumah namun tidak akan mampu menjadi tempat pertahanan kita. Sebaliknya Tuhan adalah batu yang teruji, suatu dasar yang teguh dan barangsiapa yang percaya kepadanya tidak akan gelisah. Sejarah membuktikan setiap orang yang percaya dengan segenap hati kepada Allah tidak akan pernah menjadi kecewa, sebaliknya kemuliaan dan kebesaran Allah menaungi kehidupannya, masalah boleh datang, tapi tidak membuat orang itu menjadi tergeletak sebaliknya dia akan bangkit dan keluar menjadi pemenang seperti yang dialami oleh Abraham, Daud, Paulus dan masih banyak lagi. Hari ini berhentilah melupakan Allah karena di luar Allah kita hanya seperti sedang hidup di atas sebuah sarang laba-laba.
|
|