HOME    NEWS    COVER STORY    COLUMNIS    SUBSCRIPTION    SPONSORSHIP    CONTACT US   
COLUMNIS
» Mendidik Anak dengan KATA…
» Mendidik Anak dengan SENYUM
» MELINDUNGI ANAK
» MIMPI SANG PENGEMIS
» THE LANGUAGE OF FAITH

Quality Time

Sebagaimana tahun ajaran sekolah baru datang kepada kita, dengan semua kewajiban “kembali-ke-sekolah”, kita perlu menyakan diri kita sendiri, “Apa yang akan dipelajari anak saya tahun ini selain membaca, menulis dan aritmatika?”

 

Banyak dari kita telah melihat anak-anak kita membawa hal-hal dari sekolah yang kita tak terlalu peduli. Mungkin hal tersebut adalah sikap tidak hormat pada Anda atau bahasa yang kurang baik dari lirik di CD baru atau perilaku yang mereka pelajari dari iklan pornografi yang muncul di monitor komputer ketika sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Bersiaplah, karena hal ini akan terjadi.

 

Sebagai orangtua kita perlu membuat budaya ilahi dalam rumah kita yang diikuti oleh anak-anak kita—yang adalah pergi “kembali-ke-sekolah” bersama mereka–daripada mengijinkan mereka membawa sikap dan perilaku yang tak diinginkan ke rumah.

 

Ini adalah kenyataan yang sulit untuk diterima, tetapi anak-anak hari ini jatuh ke dalam perangkap tipu daya. Ia menawarkan semua kemilau tetapi tak menampilkan satu pun kotoran yang datang akibat tertipu. Tipu daya tidak terjadi seketika, dan budaya ini memiliki banyak waktu untuk mengulangi pesannya lagi dan lagi. Sebagai hasil, anak-anak kita mentransfer kepemilikan hati mereka dari kita kepada yang lainnya.

 

Suatu iklan budaya pop mengatakan, “Kami tidak mengiklankan pada generasi ini; kami memiliki generasi ini.” Dalam banyak hal itu betul. Apa yang mereka katakan terjadi. Apa yang mereka taruh di jaringan televisi terjual.

 

Kita dapat mengatakan pada anak-anak kita, “Sejauh kamu adalah bagian dari rumah saya, kamu tidak boleh menonton ini atau memakai itu.” Tetapi respon seperti itu melakukan sangat sedikit untuk mengembalikan hati mereka ke rumah.

 

Pada suatu waktu dalam proses pertumbuhan, anak-anak kita tidak tertarik pada apapun yang kita katakan. Mereka tidak mau mengatakan tentang sesuatu atau mendengarkan kita. Dan ketika mereka mendengarkan, mereka melakukan itu dengan menggerutu. Kelihatannya mereka tidak menginginkan pengaruh kita, dan tak lama memeluk nilai-nilai ilahi.

 

Meskipun ini mungkin merupakan sebuah kejutan bagi sebagian dari kita, anak-anak kita secara bertahap mentransfer kepemilikan hati mereka dari kita, orangtua mereka, kepada teman-teman mereka atau kepada kebudayaan. Anak-anak lebih peduli untuk menyenangkan teman-teman mereka daripada menyenangkan Mama dan Papa. Jenis pemikiran ini mulai secara bertahap, tetapi setiap langkah kecil adalah tanda bahwa hati mereka telah menjauh.

 

Tampaknya tidak ada harapan, tetapi ada yang dapat kita lakukan! Kita, sebagai orangtua, perlu untuk campur tangan. Kita perlu mengembalikan hati mereka kepada kita. Ini tak akan terjadi dengan memerintahkan anak-anak kita untuk melakukan ini atau itu, tetpai dengan membujuk mereka.

 

Orangtua, ini adalah tugas kita untuk melanjutkan membujuk anak-anak kita sehingga mereka akan mau mendengarkan kita—bukan kepada media, teman-teman mereka atau pengaruh yang tidak ilahi. Jika kita mengijinkan kebudayaan atau teman mereka untuk berkuasa atas mereka, kita akan memiliki waktu yang sangat sulit untuk kembali mengukuhkan rasa hormat yang pernah mereka miliki kepada Tuhan dan kita.

 

Peribahasa “Waktu berkualitas lebih baik daripada kuantitas” adalah tidak benar. Menjadi orangtua berarti memberikan pengorbanan dan waktu.

 

Kita butuh untuk melakukan berbagai hal bersama anak-anak kita dan memenangkan mereka dengan membangun ikatan dan membuat kenangan bersama melalui berbagi pengalaman. Ini akan mulai menarik hati mereka kepada rumah.

 

Setelah Anda menghabiskan banyak waktu (quantity time) bersama anak-anak Anda, mereka akan mulai melihat bahwa Anda peduli dan mau mendengarkan mereka. Anak-anak Anda bahkan akan membuka dan membagi pikiran dan perasaan mereka dengan Anda.

 

Bergantung pada seberapa mengerasnya anak-anak Anda dan seberapa mereka terkontrol dan termanipulasi oleh budaya dan teman-teman mereka, ini akan mengambil sejumlah waktu yang berarti pada permulaan membujuk mereka. Tetapi ini bukan tidak mungkin. Mulai pola waktu “berkuantitas” dengan anak-anak Anda ketika mereka masih muda dan mudah dipengaruhi.

 

Inilah waktunya untuk membuat kembali budaya di rumah yang mendemonstrasikan kepada anak-anak kita kasih yang tak bersyarat dan mempromosikan komunikasi terbuka. Inilah tugas kita sebagai orangtua untuk membujuk hati anak-anak kita dan mempengaruhi pikiran mereka. Beranilah. Anda bisa!

----------------------------------------------------------------------------------------

Ron Luce bersama isterinya, Katie, menemukan Teen Mania Ministries pada 1986 dengan misi untuk “Memprovokasi generasi muda untuk berapi-api mengejar Yesus Kristus dan membawa  pesan pemberian-nyawaNya sampai ke unjung dunia.”



   
home | news | columnis | cover story | subscription | contact us | Login Email Charisma