|
COLUMNIS
|
Orangtuaku Melarang Hubunganku
Konseling bersama:
Ir.Jarot Wijanarko adalah seorang konselor di bidang keluarga. Beliau juga adalah pengarang beberapa buku dan banyak berbicara mengenai pendidikan keluarga dan motivasi. Bersama istri terkasih, Ir.Esther Setiawati, dan ketiga anak mereka, Nathania Christy, Benaya Christo dan Levina Christy, saat ini berdomisili di Jakarta.
PERTANYAAN :
Apa yang sebaiknya kulakukan jika Anda menjadi saya karena saat ini jujur saja saya dihadapkan suatu dilema dimana orangtua saya tidak setuju terhadap cewek yang akan saya nikahi karena memang mungkin masa lalunya yang kurang baik di samping itu juga ia berasal dari keluarga yang kurang mampu dan broken home juga. Lagipula perbedaan ras dan agama keluarga berbeda juga.
Akan tetapi kami saling mencintai sehingga hubungan kami sudah dikaruniai seorang putri meskipun kami belum menikah. Saya juga tahu itu adalah suatu dosa. Jadi apa yang harus saya lakukan? Saya ingin keluar dari rumah, mama saya akan mencap saya sebagai anak durhaka karena saya tidak menuruti kata-katanya. Padahal banyak kata-katanya yang bisa membuat hati saya miris, juga mendengar bahkan kalau dia mati saya juga tidak boleh hadir pada saat pemakamannya. Akan tetapi jika saya begini saya pun dianggap tidak tanggung jawab juga tidak adil di pihak keluarga cewek. Terus saya harus bertindak bagaimana? Mohon saran, petunjuk serta nasehatnya. Dosa yang saya lakukan sungguh berat, entah Tuhan masih mau mengampuni atau tidak. Salam hormat, terima kasih.
JAWABAN:
Semua orang pernah berbuat dosa, dan jika bertobat sungguh-sungguh, TUHAN pasti mengampuni. Jangan berbuat dosa lagi atau menyelesaikan dosa dengan dosa, tetapi menyelesaikan kesalahan dengan keputusan yang benar, apapun resikonya. Pertama Anda telah berdosa dengan hubungan suami-istri sebelum menikah dan sudah ada anak. Maka yang terbaik adalah Anda bertanggungjawab dengan menikahinya secara resmi, dan minta diberkati oleh pendeta/ gereja.
Orangtua tidak setuju, itu hak orang tua, yang sebenarnya jika Anda belum terlanjur punya anak, maka harus diikuti. Tetapi kondisi Anda sudah terlanjur punya anak. Maka Anda minta ampun ke orang tua, dan mengatakan bahwa Anda mengasihi dan tetap minta sebagai anak. Hanya saja, katakan bahwa Anda tidak mau berdosa dua kali dengan mencampakkan istri dan anak begitu saja, Anda mau bertobat dan bertanggungjawab. Dengan sikap itu, apapun sikap orangtua Anda tetap menghormati dan menganggap mereka sebagai orangtua, berusaha berbakti dan mendoakan.
Jika keputusan Anda untuk tetap menikahi tersebut membuat orangtua Anda marah dan Anda diusir, maka Anda sekali lagi minta ampun pada orangtua, dan tetap pada keputusan Anda untuk bertanggungjawab dan katakan tetap akan mengakui mereka sebagai orangtua Anda.
|
|