Kebebasan Untuk Mengampuni

Setiap hari di dunia ini, di masyarakat dan dalam komunitas individual kita, ada seseorang yang diperlakukan dengan tidak adil. Seseorang disakiti, meskipun ia tidak layak diperlakukan demikian. Seseorang berbohong kepada atau berbohong tentang sesuatu. Seseorang diabaikan atau diserang. Seseorang disingkirkan atau didiskriminasi. Banyak dari kita tidak perlu melihat jauh-jauh untuk menemukan penganiayaan tersebut—karena kita adalah salah satu yang mengalaminya!
Jika Anda menjadi objek dari gosip fitnah di gereja, atau tidak mendapatkan promosi pekerjaan yang dijanjikan, atau dilecehkan karena ketakutan dan prasangka orang lain, selamat bergabung. Kita semua merasakan sakit karena perlakuan yang tidak adil pada satu titik di dalam kehidupan kita.
Sayangnya, sedikit dari kita yang mengetahui bagaimana cara mengatasi hal tersebut. Kita berlama-lama pada siapa, apa, kapan, bagaimana dan mengapa ada pelanggaran tersebut, membenarkan kemarahan kita, dan tidak pernah mengindahkan gagasan untuk mengampuni—setidaknya tidak sekarang. Di atas semuanya itu, kita berpikir, mengapa kita harus memaafkan seseorang yang telah memperlakukan kita demikian?
Ini adalah pertanyaan yang relevan ditanyakan para umat Kristiani. Juru selamat dan teladan kita, diperlakukan dengan tidak adil—dan ketika Ia tergantung di salib, Ia mengatakan, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Ia tidak berlama-lama memikirkan penganiayaan yang Ia terima; sebaliknya, dengan cepat Ia mengampuni.
Kita juga demikian seharusnya. Tetapi tentunya lebih mudah mengatakan daripada melakukannya memang.
Saya tahu. Saya berusia 5 tahun ketika ayah saya, Martin Luther King Jr., ditembak mati ketika berdiri di balkon di Lorraine Motel di Memphis, Tennesse. Pada waktu itu tanggal 4 April 1968.
Saya tumbuh dengan penuh amarah karena ayah saya telah diambil dengan tidak adil dari saya pada usia yang demikian muda. Dan pada tahun-tahun berikutnya, tiga kematian lainnya dalam keluarga membawa saya pada jurang kebencian dan kemarahan yang bahkan lebih dalam lagi.
Pada 1969 Paman saya A.D., adik laki-laki terkecil dari ayah saya dan orang yang mengajarkan saya bagaimana cara berenang ketika kami sedang berlibur musim panas di Jamaika, tenggelam secara misterius di rumahnya beberapa hari setelah kami kembali dari perjalanan. Pada 1974 nenek saya, Alberta Williams King, ditembak mati ketika memainkan “The Lord’s Prayer” pada organ gereja keluarga kami, Ebenezer Baptist di Atlanta. Dua tahun kemudian sepupu saya yang berusia 20 tahun, Darlene King, anak A.D., meninggal karena serangan jantung ketika sedang jogging.
Rasa sakit akibat begitu banyak kematian dan kehilangan meninggalkan amarah yang amat sangat yang membuat saya memulai kebiasaan minum saat remaja. Kemudian, saat menjadi mahasiswa Fakultas Hukum di Emry University, saya bermaksud bunuh diri.
Tetapi ketika saya memegang pisau di tangan, saya mendengar Roh Kudus berbisik, “Orang-orang akan merindukanmu.” Saya menaruh kembali pisau itu dan akhirnya mencari konseling. Hidup saya mulai berubah—bahkan lebih dramatis setelah saya menerima baptisan Roh Kudus pada 1995.
Sejak itu Roh Kudus mengajarkan saya bagaimana memenangkan “faktor tidak mengampuni” dalam hidup saya. Ia mengajarkan saya bagaimana mengatasi kemarahan saya dan mengampuni, bahkan untuk perlakuan yang salah dan tidak adil.
Sering kali ketika orang-orang melakukan sesuatu kepada kita yang kita rasa kita tidak layak, kita menghabiskan banyak sekali waktu mencoba untuk membalasnya kepada mereka atau memelihara dendam terhadap mereka. Tetapi apa yang akan terjadi jika Yesus melabuhkan amarah kepada para penuduhNya atau bermaksud membalas dendam ketika Ia tergantung di salib? Ia takkan pernah memenuhi misiNya untuk mendamaikan kita kembali dengan Tuhan.
Kebenarannya adalah, bilamana kita melabuhkan perasaan sakit, mereka meracuni roh kita dan menghambat kita untuk mencapai tujuan kita dan berjalan dalam panggilan kita. Amsal 23:7 mengingatkan kita bahwa “sebagaimana seseorang berpikir dalam hatinya, demikianlah ia.” Itu berarti bahwa jika kita tinggal dalam pikiran dan perasaan negatif, kita akhirnya akan menghidupi hal-hal negatif tersebut; tetapi jika kita tinggal dalam pikiran dan perasaan yang positif, kita akan menghidupi hal yang positif.
Tidak peduli bagaimanapun kita diperlakukan, kita tidak boleh berfokus pada tindakan negatif mereka tetapi pada hadiah positif dari merespon seperti yang Yesus lakukan. Yesus tidak berlama-lama dalam kemarahan dan membalas dendam tetapi berfokus kepada hal yang lebih baik.
Mereka Tidak Tahu Apa yang Mereka Lakukan
Tentu saja Yesus dapat melakukannya bahkan kepada orang-orang yang menyalibkanNya. Tetapi Ia menyadari bahwa merea “tidak tahu apa yang mereka lakukan.” Ia mengerti bahwa Ia berurusan dengan orang-orang yang memiliki ketidaksempurnaan—kesalahan dan kelemahan yang menahan mereka untuk memperlakukan Ia dengan adil.
Agar kita mengampuni orang lain ketika kita dianiaya, kita, seperti Yesus, harus menyadari bahwa manusia itu tidak sempurna. Bahkan umat Kristiani pun tidak sempurna.
Ketika kita lahir baru, itu adalah roh kita yang diperbaharui. Jiwa kita—keinginan kita, pikiran dan emosi—dan tubuh kita tetap yang lama. Setiap hari kita harus menyangkal diri lama kita, memperbaharui pikiran melalui merenungkan Firman Tuhan dan memilih untuk serupa dengan Kristus dalam setiap hal yang kita lakukan. Tetapi ini adalah proses yang tidak cepat.
Sering kali kita menemukan diri kita tetap bertindak emosional atau impulsif—manusia lama—daripada dari pikiran yang sudah diperbaharui. Ketika itu persolannya, kita dapatmemiliki semua pengetahuan dan kecerdasan di dunia dan masih membuat keputusan yang salah yang menyakiti orang lain. Seperti yang dikatakan Roma 8:6, “
Kita semua pernah mengatakan dan melakukan hal yang menyakitkan yang kemudian kita sesali. Kita harus menyadari bahwa orang lain pun melakukan hal yang sama.
Apakah ini berarti kita tak perlu menganggap salah tindakan tersebut? Sama sekali tidak! Ketika Yesus mengatakan, “Bapa, ampuni mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan,” Ia tidak mengatakan, “Bapa, ampuni mereka, karena apa yang mereka lakukan itu baik-baik saja.” Ia mengatakan, “Bapa, jangan limpahkan ini kepada mereka.”
Yesus tidak menyangkal bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah; Ia memaafkan mereka. Berlawanan dengan reaksi kita biasanya ketika seseorang berbuat salah pada kita!
Kita cenderung menyimpan dendam kepadanya sepanjang hidup kita. “Saya tidak akan pernah mempercayai dia lagi,” begitu kata kita. Terperangkap dalam penderitaan kita, kita merasa dibenarkan dalam penolakan kita untuk memaafkan orang yang telah menyebabkan kita begitu menderita.
Wanita harus berhai-hati dalam hal ini. Sifat alami kita untuk memelihara dapat membawa kita untuk memelihara, memberi makan, dan memberi kehidupan kepada emosi sakit hati, marah dan perasaan terhianati kita.
Semakin lama kita memberi makan, semakin besar keterikatannya; semakin besar keterikatannya, semakin sulit untuk melepaskan ikatannya. Ketika kita secara terus-menerus memberi makan emosi negatif kita, kita akan berakhir dalam perbudakan mereka. Mereka mengambil kendali atas kita, dan kita mulai melakukan dan mengatakan hal yang menyakitkan yang melawan hal yang telah dilakukan dan dikatakan orang yang melawan kita.
Jika penyaliban berarti sesuatu, itu berarti bahwa melalui Yesus Kristus kita telah diberi kesempatan dalam hidup. Sekarang, sebagai orang Kristen, giliran kita untuk memperluas “kesempatan kedua” yang sama untuk orang lain.
Jaga dalam pikiran kebutuhan kita untuk mengampuni, kita dipanggil untuk hidup dengan gaya hidup mengampuni, berdoa dengan cara yang Yesus ajarkan kepada kita dalam Matius 6:12 : “Ampuni kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”
Menghancurkan Dinding
Yesus mengampuni orang yang menganiaya Dia karena Ia tahu mereka tidak sempurna. Ia juga mengampuni mereka, saya percaya, karena Ia tahu bahwa manusia membutuhkan hubungan yang sejati yang hanya bisa diberikan oleh pengampunan—hubungan dengan Tuhan lebih dulu dan kemudian dengan sesama.
Penyaliban Yesus menghapuskan keretakan yang ada di antara Tuhan dan manusia. Sekarang, sebagai pengikutNya, kita dipanggil untuk menghapuskan keretakan yang ada di dalam berbagai hubungan yang kita miliki. Seperti 2 Korintus 5:18 mengatakan kepada kita, “Tuhan…telah mendamaikan kita kepadaNya melalui Yesus Kristus, dan telah memberikan kita pelayanan pendamaian.”
Beberapa perasaan lebih menyakitkan dari perasaan terasing dari antara orang-orang di sekeliling kita. Kita semua membutuhkan persahabatan dengan orang lain! Untuk alas an ini, hal terburuk yang dapat kita lakukan ketika kita dianiaya adalah menyimpan dendam dan mencoba untuk membalas; hal ini hanya membuat hubungan jauh lebih tegang dan menimbulkan keterasingan yang lebih lagi. Kita justru harus mengampuni, mengambil langkah pertama untuk mendamaikan hubungan.
Ketika Yesus berdoa, Tuhan, ampuni mereka,” Ia tidak menghapuskan tanggungjawab penganiayaNya; Ia menghapuskan perasaan bersalah mereka. Dan dengan menghapuskan rasa bersalah mereka, Ia telah menghancurkan tembok pertahanan yang mengasingkan mereka—dan kita—dari Tuhan.
Itulah yang terjadi ketika kita mengampuni orang lain: Mereka tidak lagi membutuhkan untuk menjadi defensif karena kita telah mengirim pesan bahwa tindakan mereka adalah bukan fokus kita; sebaliknya, hubungan adalah apa yang penting bagi kita. Dengan kata lain, kita telah memberi tahu mereka bahwa kita tak ingin untuk mengijinkan apapun—bahkan tidak juga kata-kata atau perbuatan mereka yang menyakitkan—untuk memisahkan kita dari kasih yang harus kita miliki satu sama lain.
Ketika kita tidak mengampuni, bagaimanapun, kita mendirikan tembok yang menjauhkan kita dari perdamaian dan membagikan kasih dengan dia yang menganiaya kita. Pengampunan, di sisi lain, membukakan pintu untuk perdamaian dan memungkinkan sebuah hubungan baru yang berdasarkan kasih.
Pengampunan membawa serta rasa indah kebebasan. Ketika kita mengampuni orang lain, kita terbebas dari amarah, frustrasi dan kecemasan mendendam atau berusaha membalas. Ketika orang lain mengampuni kita, kita terbebas dari rasa bersalah dan takut yang membuat kita ingin mengasingkan diri kita dan besembunyi di balik setiap dinding.
Setelah kita mengerti bahwa tak seorangpun keluar untuk mendapatkan kita, bahwa kita tak perlu mengawasi punggung kita karena takut kalau-kalau kita ditikam, kita dapat mulai merasakan kedamaian dan kebebasan yang dibutuhkan untuk membuka jalan kepada hubungan yang sejati dengan sesama.
Ampuni Bagaimanapun juga
Tetapi bagaimana jika orang yang menganiaya kita tidak pernah mengakui kesalahan mereka atau meminta maaf kepada kita? Apakah kita tetap harus mengampuni? Jawabannya adalah ya. Jika Yesus dapat mencari kekuatan untuk mengatakan, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tak tahu apa yang mereka perbuat”; jika Ia dapat mencari rahmat di tengah bermandi darah untuk mengampuni melampaui batasanNya, meskipun mereka tak menyesal; maka pasti kita dalam kecilnya kita dapat memberi pengampunan kepada mereka yang telah memperlakukan kita dengan tidak adil, entah mereka memintanya ataupun tidak.
Tidak menjadi masalah siapa yang memulai prosesnya—dia yang membutuhkan untuk meminta pengampunan atau dia yang membutuhkan untuk mengampuni. Pengampunan adalah cara yang sehat untuk dilalui. Ketika kita memilih untuk tidak mengampuni, kita akhirnya berpegangan pada apa yang membuat kita sakit. Kita menjadi terbebani oleh emosi negatif yang menghambat pertumbuhan emosional dan spiritual kita.
Pertimbangkan tubuh fisik: Ketika makanan yang telah kita makan "dimiliki" terlalu lama dan tidak dibuang pada waktunya, ia berubah menjadi racun. Ia menjadi racun yang dapat menciptakan penyakit dan wabah dan akhirnya membunuh kita.
Demikian pula, emosi yang kita simpan terlalu lama dapat menjadi racun. Jika kita berpegang pada mereka, mereka dapat membuat kita sakit dan akhirnya membunuh kita. Pengampunan adalah satu-satunya cara untuk membuang racun tersebut—dan lebih cepat, lebih baik.
Kita harus mengampuni. Ya, ini bisa menjadi hal yang sulit. Manusia lama kita masih tetap aktif. Kemarahan kita, sakit hati dan rasa dihianati berteriak minta diberi makan.
Tetapi jika kita melihat kepada Yesus sebagai contoh kita dan mengijinkan Roh Kudus untuk memperbaharui pikiran kita hari demi hari, kita dapat menaklukkan faktor tidak mengampuni dalam hidup kita. Saya tahu. Kita dapat bebas pada akhirnya.
Bernice A. King, 38, putri bungsu dari Martin Luther King Jr, dan Coretta Scott King, adalah menteri dan pengacara berlisensi yang tinggal di Atlanta, Georgia.
|