J.H Gondowidjojo
Charisma:Media adalah sebuah dunia yang sangat kompetitif dan dikendalikan oleh ego yang sangat tinggi dibanding dengan dunia yang lain, apalagi dengan kekuatan media yang begitu besar. Bagaimana media Kristen seharusnya menempatkan diri dalam posisi ini.
J.H Gondowidjojo:Media dalam posisi melakukan Amanat Agung didalam jalur PENDIDIKAN seperti yang tertulis dalam Injil Matius 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan Baptislah mereka dalam nama Bapak dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir jaman”. Kata jadikanlah murid dan ajarlah ini berbicara pendidikan dan seluruh perjalanan Yesus, yang dilakukan adalah : mengajar/mendidik dan menyembuhkan orang sakit.
Pendidikan adalah merupakan dasar yang amat penting dan kuat dalam meningkatkanharkat hidup bangsa dan membangun budaya bangsa. Bangsa yang memiliki harkat hidup dan budaya yang tinggi adalah bangsa yang besar yang mempunyai “NILAI” dalam kehidupan berbangsa yang berdampak pada mental, moral, dan rohaninya. Dan semua ini harus di bangun lewat jalur pendidikan. Media Kristen yang memiliki posisi yang kuat yang didalamnya menyatakan kebenaran akan menjadi standar dalam membangun pendidikan untuk meningkatkan harkat dan budaya bangsa.
Media Kristen dapat memberikan pengaruh pada dunia, karena 7 pilar utama di dalam masyarakat yang harus di bangun, yaitu, : Bisnis, Pemerintahan, Media, Dunia entertainment dan seni, Pendidikan, Keluarga, serta Agama. Seluruh pilar harus dibangaun lewat jalur pendidikan dan terobosan akan terjadi lewat media.
Supaya terjadi apa yang di Firmankan bahwa setiap lutut akan bertelut dan setiap, lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, maka diperlukan peranan media masa untuk mengajarkan – menambahkan – mengimpartasikan setiap kebenaran.
Media Kristen berperan membuka jalan - mempersiapakan jalan supaya Anugrah, kasih karunia itu turun.
Media Kristen sebaiknya masuk dalam 5 JAWATAN, berperan menyampaikan suara kenabian, tetapi terutama media Kristen harus menempati posisi yang benar, yaitu misi penginjilan, jadi media menempatkan diri dalam posisi sebagai jawatan penginjilan.
Enam hal diatas akan menyadarkan para pemimpin media untuk mengerti posisi media Kristen dan menempatkan dirinya pada posisi itu.
Charisma:Destiny secara spiritual sebuah media adalah menjadi suara kenabian atau suara profetik untuk sebuah bangsa, dengan tugas utama sebagai sumber informasi yang memproklamasikan kebenaran dan mengungkap ketidakbenaran dalam cara yang tidak memihak siapa saja. Beberapa dari unsur media memang melakukan hal ini, namun sangat sedikitnya individu-individu yang mengerti akan kebenara Firman Tuhan dalam mengoperasikan sebuah media telah mengakibatkan berkuasanya setan di atas gunung media. Dan sayangnya, setan sangat pintar dalam memanfaatkan media dimana pemberitaan dan penulisan lebih sering mengedepankan sesuatu yang negative dan buruk tanpa diakhiri dengan solusi atau jalan keluar. Pada akhirnya, roh yang berada di balik media adalah roh yang membawa ketakutan yang menghilangkan pengharapan. Tanggapan Bapak mengenai hal ini?
J.H Dondowidjojo:Saya menyadarikan hal itu, karena itu yang saya lakukan pada seluruh sahabat kerja baik di bahana, renungan pagi, renungan malam, penerbitan buku rohani, penerbitan buku umum dll adalah : DOA DAN FIRMAN.
Doa pagi bersama (pada jam kerja) dengan mendengarkan Firman (singkat), setoap hari senin dan jumat pagi ada ibadah bersama yang di layani oleh berbagai Hamba Tuhan dari berbagai denominasi, ada kelompok-kelompok sel yang membahas Firman Tuhan dan berdoa.
Seringkali diadakan seminar mengenai berbagai topic yang dihadiri oleh para pelaku media dan kami juga mengikuti sertakan mengurus staf staf kami untuk mengikuti terlibat dalam berbagai seminar – pertemuan – KKR dll diluar.
Saya mengarahkan kepada seluruh pemimpin media untuk banyak berhubungan dengan para Hamba Tuhan, para penulis, para pengajar dll dari berbagai denominasi, menjalin hubungan baik dengan semua gereja yang ada, juga kepada sekolah – sekolah misi, sekolah – sekolah alkitab, perguruan tinggi dll.
Disediakan budget khusus untuk melaksanakan hal – hal di atas.
Jadi sebagai pelaku media yang di percaya oleh Tuhan HARUS PEGANG PRINSIP dan KEBENARAN ITU HARUS MENJADI PRINSIP MEDIA, DIANTARANYA PRINSIP KEBENARAN ADALAH: JADI TERANG, JADI GARAM DITEMPAT GELAP.
Charisma:Melihat media secara keseluruhan, kita tidak bias terlepas dari kenyataan bahwa ada sebuah peperangan rohani yang berlangsung dibalik semua kegiatan media. Kita tidak hanya “berperang” melawan orang-orang yang terlibat di dalam dunia media tetapi juga berperang melawan penguasa-penguasa udara yang saat ini menguasai gunung media. Tanggapan Bapak akan hal ini? Dan apakah yang seharusnya kita lakukan sebagai pelaku media Kristen?
J.H Gondowijdojo: Bahwa doa itu sangat penting karena doa adalah membangun hubungan, salah satu langkah penting dalam pertumbuhan rohani adalah “perjumpaan” anak dengan Bapa, dalam perjumpaan itu pasti Bapa berfirman dan anak mendengarkan dan dari situlah mengalir suara kenabian/suara profetik, mengalir hikmat akal budi untuk menuju kepada langkah – langkah apostolic. Kami membangun bukit doa di kaliurang, namanya : “EMALTA” dan saya menggerakkan semua pemimpin media secara berkala, naik ke bukit doa, mengadakan puasa bersama dan merenungkan Firman. Saya menulis buku yang judulnya adalah: Sekolah doa, yang kedua adalah: Membangun manusia rohani dan yang ketiga adalah: membangun keintiman dengan Bapa. Saya bagikan ketiga buku itu kepada para pemimpin media di penerbit ANDI dan saya mendorong untuk mengajarkan kepada semua sahabat kerjanya.
Yang kedua adalah: harus membangun dasar iman yang kuat dari iman yang kuat akan muncul kekuatan roh supaya bisa berdoa dalam kemenangan demi kemenangan.
Gambarnya seperti pohon, jikalau akarnya kuat maka pohon itu tidak mudah tercabut, akarnya yang kuat membuat pohon itu tahan terhadap badai apapun. Pelaku media yang imannya kuat, pasti visi misinya kuat dan tidak mudah digoncang.
Charisma: Media adalah salah satu pilar yang membentuk kebudayaan. Bagaimana Bapak melihat hal ini terkait dengan peran media Kristen saat ini. Apakah kita sudah cukup baik dalam ikut serta membentuk kebudayaan positif dari bangsa Indonesia?
J.H Gondowidjojo: Yang selalu saya ajarkan adalah: “ membangun corporate culture” atas dasar kebenaran Firman Allah dan itu akan menghasilkan karakter yang baik, yang menjadi dasar supaya menjadi pendengar yang baik dan berkomunikasi dengan baik. Kesatuan itu buat saya adalah yang terutama, sebab dari kesatuan akan menghasilkan: kekuatan, networking, langkah – langkah misi, terobosan dan menghasilkan percepatan. Teladan ini sebaiknya terimpartasi lewat media untuk membangun kebudayaan positif di bangsa Indonesia.
Yang dimaksud dengan pilar adalah tiang kekuatan yang menopang, jadi pilar adalah kekuatan, jikalau pilar miring maka rumah itu akan miring, tetapi pilar berpijak pada pondasi, tiang/pilar berdiri tegak pada pondasi yang kuat merupakan kekuatan yang bisa menopang semua beban seberat apapun DAN PONDASI MEDIA KRISTEN ADALAH YESUS KRISTUS TUHAN SEBAGAI RAJA DIATAS SEGALA RAJA dan ini berbicara kerajaan, sehingga budaya media Kristen yang positif adalah PUJIAN DAN PENYEMBAHAN kepad Yesus Kristus Tuhan, pujian – penyembahan ini yang membawa media ke hadirat Bapa, jadi Pujian dan Penyembahan itu adalah budaya media Kristen.
Yang kedua: TATANAN DAN ETIKA sebagai pelaku media Kristen adalah budaya yang harus dilakukan.
Charisma:Jurnalis yang saat ini ada hampir semua merupakan lulusan sekolah jurnalistik sekuler dimana tidak ada fondasi iman Kristen yang ditanamkan. Hal ini akan berpengaruh pada saat mereka bertugas di lapangan dan kemudian menghasilkan tulisan-tulisan yang nantinya akan dibaca oleh jutaan orang. Sangat naïf jika kita mengharapkan sebuah penulisan yang mengandung nilai-nilai Kristen yang kuat, apabila para wartawan Kristen tidak diperlengkapi. Apakah gereja sudah cukup membekali para wartawan merupakan pertanyaan yang akan kembali harus dijawab oleh pribadi masing-masing. Menurut Bapak, apa sebaiknya yang harus kita lakukan. Apakah saatnya kita harus mulai dengan membangun sekolah-sekolah jurnalis Kristen?
J.H Gondowidjojo: Memang idealnya perlu adanya sekolah jurnalis Kristen sebab untuk membangun media yang mempunyai nilai-nilai kebenaran, sangat ditentukan oleh sumber daya manusianya yang memiliki fondasi iman yang sudah teruji. Penerbit ANDI pernah memiliki sekolah jurnalis yang mengarah pada mentoring/pendamping, dengan maksud supaya menjadi “pencangkokan” dalam rangka percepatan. Disamping ada beberapa kurikulum utama yang perlu di ajarkan tetapi lebih diutamakan pada membangun karakter, membangun mental, membangun moral, membangun ketrampilan, menambah wawasan dan tentu dengan dasar iman yang kokoh. Ada saatnya gereja – gereja Tuhan muali memikirkan dan merintis sekolah jurnalis Kristen dengan demikian langkah-langkah misi akan mencapai sasaran pada tujuh pilar didalam masyarakat.
Charisma:Melihat kenyataan yang ada saat ini, menurut Bapak langkah-langkah apa saja yang mesti dilakukan untuk kembali merebut dunia media bagi kemuliaan nama Tuhan?
J.H Gondowidjojo: Bahwa Visi – misi adalah kekuatan sebuah media Kristen, tanpa visi yang jelas, maka media tidak akan memiliki kekuatan untuk berjalan sampai ke tujuan sebab di depan banyak rintangan/hambatan. Yang kedua adalah strategi media Kristen dalam melakukan terobosan demi terobosan. Yang ketiga adalah : berani tampil beda.
Charisma:Bagaimana media dan pendidikan dapat dihubungkan menjadi sebuah unit yang terintegrasi satu dengan yang lainnya?
J.H Gondowidjojo: Sebaiknya media masuk di dalam research and development, terjun ditengah masyarakat, untuk mengetahui masalah dan kebutuhan masyarakat, untuk menemukan sistem, analisa dengan mengolah semua masukan dari masakan untuk melakukan terobosan dan memberikan pengaruh yangh baik pada masyarakat dan ini sebagai landasan supaya media dan pendidikan menjadi sebauh unit yang terintegrasi.
Charisma:Apakah Bapak sendiri telah puas melihat peran media Kristen dalam mendidik komunitas masyarakat Indonesia dalam pengetahuan yang benar sesuai dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan, saat-saat sekarang ini?
J.H Dondowidjojo: Saya belum puas sebab dengan menyadari peranandan posisi media Kristen yang sudah saya paparkan pada pertanyaan no 1 maka alangkah baiknya jika kita menyadari bahwa Tuhan memberikan talenta dan karunia yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sehingga para pelaku media tidak saling mengkopy ( meniru ), tetapi bahu membahu saling menopang, saling mengisi, tidak memicu persaingan tetapi berpacu pada pengetahuan yang benar sesuai dengan prinsip – prinsip firman Tuhan. Ini adalah langkah untuk menjauhkan dari isi media yang mengarah kepada toleransi dan kebenaran diri sendiri. Merenungkan Firman dan berdoa, mendatangkan hikat sorgawi Turun ( Rom 11 : 33-36)
Charisma: Apa pandangan Bapak mengenai fakta-fakta dibawah ini yang berhubungan dengan insan pers Kristen di Indonesia:
-
Mereka melihat fakta-fakta yang buruk setiap hari tanpa bisa dihindari yang pada akhirnya akan mempengaruhi emosi, paradigma serta cara memandang sebuah hal yang nantinya pasti akan berpengaruh dalam setiap penulisan.
-
Hampir setiap hari bertemu dengan orang-orang atau pihak-pihak yang ingin melakukan manipulasi dalam pemberitaan dengan berbagai cara termasuk dengan pemberian “tanda kasih” berupa uang dan barang.
-
Situasi dimana fakta membuktikan Indonesia adalah salah satu Negara yang menggaji wartawan terendah di dunia.
-
Kadang-kadang wartawan terpaksa ditempatkan sebagai pihak yang “dimanfaatkan” oleh nara sumber.
Hal-hal di atas adalah contoh praktis yang akan mempengaruhi ketegasan dan independensi sebuah penulisan, termasuk juga penulisan dalam media Kristen. Siapa yang harus bertanggung jawab untuk hal ini? Apakah gereja, pribadi masing-masing atau siapa.
J.H Gondowidjojo: Semua gereja, semua organisasi media harus ikut bertanggung jawab terhadap masalah tsb di atas, termasuk memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan semua yang terlibat dalam penerbitan, tetapi persoalan yang serius adalah:” bagaimana menjadi wartawan yang baik” tidak hanya focus pada pendidikan ketrampilan saja, tetapi juga menyangkut profesionalismenya, loyalitasnya, intergritasnya dan juga harus memiliki roh yang takut akan Tuhan dan rasa tanggung jawab dihadapan Tuhan, oleh karena itu seleksi sumber daya harus dilakukan oleh sebuah team yang baik dan memahami persoalan. Tetapi bagaimanapun juga kesejahteraan - gajih wartawan sebaiknya menjadi perhatian penting.
Charisma: Apakah media Kristen juga telah masuk ke dalam klasifikasi liberal dalam pemberitaan dan mendidik umat Tuhan di Indonesia? Apa pendapat Bapak dalam hal ini.
J.H Gondowidjojo: Seringkali salah persepsi dalam klasifikasi liberal dan penerapan marked place, dalam hal ini sebaiknya media memiliki team editor yang berpegang kuat pada prinsip-prinsip kebenaran.
Charisma:Dalam pengalaman Bapak yang sangat lama bergelut dengan media cetak, apa yang menjadi tantangan terbesar selama ini?
J.H Gondowidjojo: Tantangan terbesar yang saya hadapi selama ini adalah: Bagaimana meresponi perubahan demi perubahan yang sangat cepat dan bagaimana mengantisipasinya, mempersiapkan segala sesuatu menghadapi perubahan-perubahan itu juga masalah kualitas SDM ( terutama para pemimpinnya), baik masalah mental, moral, karakter negative yang tersembunyi merekrut teman-teman sekerjanya yang lain, meninggalkan dengan memberikan pengaruh yang buruk. Untuk menghadapi semuanya ini kami bersama seluruh sahabat kerja duduk diam, berlutut bersama dan menyerahkan semua ke hadirat Bapa sorgawi dan kami memberkati mereka.
Charisma:Bagaimana Bapak menempatkan Kristus dalam setiap usaha media yang Bapak lakukan dan kemudian mengimpartasikan nilai-nilai Kristus dalam setiap tulisan yang dipublikasikan serta buku yang diterbitkan?
J.H Gondowidjojo: Kami menempatkan Kristus sebagai raja di atas segala raja yang memerintah usaha media, kami memiliki team doa khusus yang mendoakan setiap media yang akan diterbitkan sehingga ada impartasi yang kuat oleh Roh Kudus pada setiap media yang sampai kepada pembaca. Satu hal yang penting bahwa pada setiap pelaku media harus ada teladan Yesus, ada karakter Yesus, memahami kematian, Kebangkitan, dan kenaikanNya ke sorga dan peranan Roh KudusNya ( Filipi 3:10 tertulis: yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya.)
Disamping itu kami membentuk kelompok-kelompok doa dalam setiap departemen, baik di team editor, di percetakan, dibagian pemasaran, dibagian distribusi, dibagian akuntasi, dll dan kami membawa buku-buku dlln yang akan dipasarkan ke Bukit Doa Emalta, untuk lebih dahulu diserahkan kepada Tuhan Yesus Kristus.
Charisma: Jika Bapak dipercayakan untuk menyampaikan kata-kata yang kiranya dapat membawa inspirasi kepada para pelaku media bahwa dunia media dapat direbut kembali untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus, apa yang akan Bapak katakan?
J.H Gondowidjojo: Saatnya sekarang para pelaku media membangun tembok-tembok Yerusalem yang runtuh, para pelaku media menjadi Nehemia-Nehemia di akhir zaman ini untuk kemulian Tuhan. Pada waktu direktur penerbitan buku rohani ANDI resign, saya dihadapkan pada 2 pilihan, yaitu: seorang calon yang sudah profesional, dengan kemampuan yang bagus dll ( sebut saja nama Heru ) yang cukup memenuhi syarat dan calon lain ( sebut saja namanya Hari ) yang kondisinya agak di bawah calon yang pertama, tetapi saya memperoleh hikmat bahwa Hari dipercaya oleh Tuhan untuk membangun tembok-tembok Yerusalem yang runtuh. Akhirnya saya memutuskan Hari sebagai direktur penerbitan buku rohani dan ternyata pesan Tuhan itu benar-benar terjadi.
Charisma:Apa yang menjadi harapan Bapak untuk media Kristen mulai dari hari ini?
J.H Gondowidjojo: Saya berharap semua media Kristen saling menopang, saling mendukung untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, Mazmur 133:1-3.
Charisma:Dalam pandangag Bapak, apa yang harus menjadi prioritas utama untuk ditingkatkan ataupun dirubah dalam kehidupan media Kristen saat ini?
J.H Gondowidjojo: Prioritas utama yang harus di tingkatkan atau dirubah dalam kehidupan media Kristen saat ini adalah : “Membangun mental, moral kekristenan supaya bisa menjadi garam, menjadi terang, membangun nilai-nilai kekristenan.
Charisma:Apakah ada pengalaman Bapak yang dapat dibagikan kepada para pelaku media dan juga para pembaca media, yang dapat menjadi pemacu semangat untuk terus berkarya dalam mendidik komunitas masyarakat melalui pemberitaan yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan
J.H Gondowidjojo: Pelaku media sebaiknya banyak melihat dan mempelajari perubahan-perubahan yang cepat didunia ini, menangkap tanda-tanda zaman, mengikuti gerakan-gerakan Roh Allah, sampaikan pewahyuan-pewahyaun baru, bangun dengan nilai-nilai kebenaran Firman Allah, pasti terbit buku-buku/tulisan yang bermutu.
Ingat loh! Segala sesuatunya bisa tiba-tiba terjadi, bersiaplah dan selalu waspada.
Tetapi semuanya itu memerlukan” sekolah kerendahan hati” supaya muncul orang-orang yang bijak
|