HOME    INFORM    COVER STORY    COLUMNIS    SUBSCRIPTION    SPONSORSHIP    CONTACT US   
COLUMNIS
» Seperti Sarang Laba-Laba
» Believe Or Trust
» Orangtuaku Melarang Hubunganku
» Apakah Allah Kecewa Terhadap…
» Rayap Rohani

Itik yang Berbeda

 

Timotius Paulus

 

Sejak kecil saya senang membeli dan membaca buku cerita bergambar seperti komik atau cerita kisah anak-anak, dan saya teringat dengan sebuah kisah yang saya sangat senangi yaitu “Anak itik yang buruk rupa”. Cerita ini tentunya sudah sering kita dengar ketika masih kecil. Sebuah cerita karangan seorang pengarang cerita anak dunia, Hans Christian Andersen.

 

Berikut kisahnya:

Ada seekor anak itik yang terlahir berbeda dengan saudara-saudaranya. Bulunya berwarna kuning sedangkan saudara dan teman mainnya memiliki warna bulu hitam. Ia sering dicibir dan dicemooh saudara-saudaranya karena ia memiliki warna bulu  yang berbeda, ia juga jarang diajak bermain bersama dengan saudara-saudaranya.

 

                Mereka kerap memanggilnya si buruk rupa, bahkan ibunya sendiri pun membencinya. Ia sangat sedih karena ia merasa ada yang salah dalam dirinya. Sebenarnya apa yang salah? Waktu terus berjalan, ia bertumbuh kian besar, warna kuning pada bulunya memudar menjadi putih bersih dan indah. Suatu hari, ia sedang berjalan-jalan di tepi danau dan ia memandang ke atas danau. Ia terbelalak melihat banyak angsa-angsa yang berbulu sama dengannya sedang terbang bergerombol mengelilingi danau. Si Itik ini kemudian mencoba untuk mengepakkan sayapnya dan zap!  Tiba - tiba tubuhnya terangkat, dia dapat terbang! Sekarang dia mengenali siapa dirinya yang sebenarnya. Ternyata dia adalah seekor anak angsa yang tersasar, dan dia hidup sekian tahun dengan tidak mengetahui siapa dia yang sesungguhnya.

 

                Wah sebuah kisah yang sarat makna dan sudah seharusnya menjadi pembelajaran bagi hidup kita. Banyak anak-anak Tuhan yang “krisis identitas“. Akhir-akhir ini, mereka sering kali malu untuk tampil beda di dalam dunia ini. Banyak anak muda yang berpikir bahwa “ikut Tuhan” adalah sebuah aib yang dapat membuat diri mereka dijauhi oleh dunia ini. Sehingga banyak anak-anak muda yang lebih memilih untuk hidup serupa dengan dunia ini dibandingkan hidup serupa dengan Allah. Padahal hidup menjadi serupa dengan dunia ini adalah sebuah kesalahan besar, karena dalam 1 Yoh 2:17  dikatakan bahwa dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya. Itu artinya semua hal yang berasal dari dunia ini bukanlah hal yang sempurna atau terbaik dalam hidup kita. Game, pornografi, tidak akan membantu kita mempunyai hidup yang lebih baik. Penampilan yang keren, hobi atau kesenangan kita, tidak akan membuat hidup kita menjadi semakin sempurna. Dan banyak lagi hal-hal yang dari dunia yang tidak membawa kebaikan tapi malah membawa kehancuran di dalam hidup kita.

 

Apa yang harus saya lakukan?

Roma 12:2

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

 

                STOP MENJADI SERUPA DENGAN DUNIA INI!!! Tapi teruslah mendekat kepada Tuhan, ikuti gaya hidup Tuhan seperti setia beribadah, setia saat teduh dan melakukan setiap Firman-Nya, maka saya percaya semakin hari hidup kita akan semakin serupa dengan Tuhan. Kita akan dibuat terheran-heran dengan diri kita sendiri. Mengapa? Karena semakin lama kita tinggal di dalam Tuhan, maka semua kedagingan, dosa dan kebiasaan buruk kita akan semakin hilang karena pembaharuan budi oleh Tuhan lewat firman-Nya.

 

                Kita harus bangkit, jangan sampai hidup kita seperti anak itik yang buruk rupa tadi yang tidak mengetahui siapa dirinya dan apa potensi hidupnya. Kitapun sebagai anak-anak Allah perlu mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya, serta mengetahui apa bakat kita agar kita dapat terbang tinggi seperti anak angsa tersebut. Jangan sampai kita terus berkubang di sungai-sungai kecil sementara sesungguhnya kita dapat terbang tinggi menjulang. Tetap semangat!!



   
home | news | columnis | cover story | subscription | contact us | Login Email Charisma