Hantam Kepalanya!
Tjandra Kusumo
Managing Director dari PT. ISG Theophany dan Salah Satu Founder dari Jaringan Persekutuan Dunia Kerja (JPDK)

Negara Indonesia dikenal sebagai sebuah negara bahari. Namun menjadi sebuah pertanyaan besar mengapa nelayan-nelayan kita tidak banyak yang maju dan berkembang? Apakah letak kesalahannya terdapat didalam lagunya yang berbunyi, “Nenek moyangku seorang pelaut?” Jadi kebesaran di laut hanyalah merupakan legenda masa lalu, yang dialami oleh nenek moyang kita dahulu dan bukan lagi kita sekarang?
Ini adalah sebuah fakta yang saya temukan di lapangan, sebagai seorang pengusaha, yang salah satu bidang usaha yang saya jalani adalah perdagangan lobster. Dengan posisi harga lobster yang bisa dikatakan bernilai cukup tinggi, namun kehidupan ekonomi para nelayan maupun pengepulnya (kolektor) jauh dari sejahtera.
Bagaimana kita bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka?
Kebanyakan orang berpikir, berikan saja modal tambahan agar bisa mendapatkan tangkapan lebih banyak dengan ukuran yang lebih besar pula. Sehingga demikian juga pemikiran dari para pengepul dan nelayan lobster ini terbentuk. Namun kenyataan yang pernah saya alami adalah: modal pinjaman menjadi hilang dan mereka terjerat hutang sedangkan saya sebagai pemberi modal bukan menjadi untung tapi buntung.
Pengalaman tidak enak ini bisa saja membuat saya mundur dari usaha ini, namun cerita mengenai bagaimana Daud mengalahkan Goliat menjadi inspirasi bagi saya. Goliat sudah dikalahkan oleh Daud bahkan jauh sebelum dia bertemu dengan Goliat itu sendiri. Kemenangan Daud ada didalam pola berpikirnya yang membandingkan Goliat dengan Tuhan.
Hal inilah yang saya lakukan, yaitu pertama-tama mengubah pola pikir dari para staf saya, dan kemudian staf-staf saya mengubah pola pikir para pengepul tersebut, yaitu: para pengepul perlu diubahkan pola pikirnya untuk dapat menjalankan usaha ini tanpa harus tergantung kepada modal pinjaman sehingga tidak perlu terjerat hutang sehingga pendapatannya dapat ditingkatkan. Awalnya para staf saya tidak bisa langsung bisa menerima perubahan ini dengan alasan: bagaimana para pengepul mau menjual lobsternya ke kita karena pengusaha lain memberikan modal tambahan terlebih dahulu ke mereka. Melalui pewahyuan dari cerita Daud dan Goliat dimana Daud hanya mengandalkan Tuhan yang dia percayai, Daud sudah menerima kemenangan didalam pikirannya. Daud sudah melihat kemenangannya atas Goliat bahkan sebelum Goliat dikalahkan didalam kenyataan.
Tidak ada seorangpun dari bangsa Israel pada saat itu yang berpikir dapat mengalahkan Goliat kecuali Daud. Pikiran kemenangan yang sejalan dengan imannya telah membuat dia melakukan suatu tindakan untuk mendapatkan kemenangan. Dengan hanya memakai sebuah senjata sederhana yaitu peluru batu, dihantamnya kepala Goliat, yang langsung membuatnya terjatuh. Hantaman ke kepala adalah sebuah representasi dari diubahkannya pola pikir dari bangsa Israel yang selama ini mengikat dan membatasi mereka untuk meraih kemenangan di dalam Tuhan. Kejatuhan Goliat bukan saja membawa kemenangan bagi Daud, tetapi kemenangan dan kebangkitan bagi seluruh bangsa Israel untuk mengalahkan musuh mereka bangsa Filistin pada saat itu.
Sejauh pikiran kita bisa diubahkan sesuai dengan iman kita di dalam Tuhan, demikian pula fakta akan mengikuti dan pada akhirnya akan turut berubah. Pada akhirnya Roh Kudus bekerja di dalam staf-staf saya sehingga merekapun berani maju dengan pola pikir yang baru seperti Daud maju menghadapi Goliat. Dengan hikmat Tuhan, staf saya “menghantam kepala” para pengepulnya sehingga terjadilah perubahan pola pikir dari si pengepul. Ada salah satu pengepul yang selalu meminta modal tambahan, setelah dijelaskan dengan baik, pikirannya berubah dan dapat menerima pemikiran yang baru tersebut. Lalu staf saya meminta dia mengirim 2 box lobster (1 box sekitar 20 kg) tanpa memberikan modal tambahan, yang terjadi adalah dia menawarkan untuk mengirimkan 3 box tanpa harus diberikan modal terlebih dahulu. Cara mengubah pola pikir ini juga diterapkan kepada pengepul-pengepul lainnya sehingga bisnis dapat berjalan dengan lebih baik bagi semuanya.
Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan beberapa putera daerah yang menawarkan pengembangan potensi investasi bisnis di Papua. Kita semua mengetahui bahwa Papua memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah tetapi sangat disayangkan masih begitu banyak keluhan dari pendudukan asli akan kekurangan kesejahteraan yang mereka alami. Kebanyakan mereka mengungkapkan kekecewaan yang mereka alami dengan pengusaha-pengusaha yang datang menawarkan janji yang pada akhirnya tidak banyak membawa perubahan terhadap kesejahteraan hidup mereka.
Saya bertanya kepada mereka, mengapa bangsa Israel dengan tanah yang tidak subur bahkan gurun, dapat diubahkan menjadi ladang pertanian dengan hasil dan kualitas yang baik serta menguasai dunia? Mereka bisa menjadi kaya secara ekonomi dengan sumber alam yang sangat minim, sedangkan Papua dengan sumber alam yang sangat kaya dan melimpah tetapi mengapa penduduknya masih tergolong miskin. Bukankah dengan kekayaaan alam yang melimpah seharusnya menjadikan mereka sangat kaya?
Ada kisah di Kejadian 26 di jaman Ishak, dimana timbul kelaparan di negeri itu, rakyat dalam kondisi yang miskin dengan tanah yang tidak menghasilkan tuaian. Namun berbeda dengan Ishak yang menabur di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat. Apa yang menyebabkan Ishak berhasil menuai sedangkan yang lain tidak ada satupun yang berhasil? Apakah karena hanya tanahnya saja yang subur atau ada faktor lain? Firman Tuhan di ayat 12 juga mengatakan karena DIA DIBERKATI TUHAN!
Ishak mempercayai janji berkat Tuhan kepada Abraham turun kepadanya. Jangan berpikir terbalik dengan menekankan usaha menaburnya yang mengakibatkan dia menuai 100 kali lipat, karena bangsa Filistin pun menabur pada tanah yang sama tapi tidak menuai seperti dia. Ishak percaya dia diberkati Tuhan sehingga dia menabur dengan iman yang menghasilkan tuaian yang dikerjakan Tuhan.
Kita yang ada didalam Kristus adalah orang-orang yang sudah menerima janji berkat Tuhan atas Abraham, sehingga bila kita bertindak dengan iman pasti menerima tuaian sebagai orang yang telah diberkati.
Sulit jika ingin melihat transformasi bangsa Indonesia hanya dengan mengecam perilaku seseorang atau mengkritik kelompok lain. Marilah kita hantam kepalanya dengan perkataan yang mengubah pola pikir didalam Tuhan, seperti Daud menghantam kepala Goliat yang mengakibatkan transformasi bagi bangsanya.
|