HOME    NEWS    COVER STORY    COLUMNIS    SUBSCRIPTION    SPONSORSHIP    CONTACT US   
COLUMNIS
» Mendidik Anak dengan KATA…
» Mendidik Anak dengan SENYUM
» MELINDUNGI ANAK
» MIMPI SANG PENGEMIS
» THE LANGUAGE OF FAITH

Constant M. Ponggawa

            Seperti diketahui bahwa Indonesia baru saja memasuki sebuah era baru yang bernama demokrasi, setelah era terdahulu. Dalam pergantian pimpinan dan akhirnya kira-kira awal tahun 2000an setelah adanya undang-undang kebebasan berpartai politik, maka demokrasi yang tadinya terkekang kemudian menjadi sangat bebas dan terbuka. Proses peralihan ini mengakibatkan banyak terjadinya political shock atau gelombang-gelombang dalam masyarakat yang berpengaruh dalam berjalannya pemerintahan. Hal ini jelas terlihat dalam banyaknya proses perlawanan yang timbul di beberapa daerah, sebagai akibat dari desentralisasi. Lain hal adalah banyaknya “pembangkangan” dari organisasi pemerintah daerah terhadap kepemimpinan Jakarta.  Tadinya hal-hal seperti ini tidak ada. Kemudian kita melihat juga undang-undang tentang berpolitik dimana sebagai akibat, setiap orang bisa dengan bebas mencalonkan diri menjadi anggota legislatif atau wakil rakyat. Dampak langsung dari hal ini adalah banyak sebetulnya yang tidak siap untuk menjadi anggota DPR tapi kemudian terpilih. Akhirnya, lembaga tempat mereka seharusnya mengabdi kepada rakyat malah dijadikan sebagai lahan mata pencaharian atau mencari keuntungan. Hal ini membuat pemerintahan kita agak tersendat.

            Sebetulnya peralihan seperti ini adalah hal yang normal bagi suatu negara. Tidak ada yang salah dengan proses ini. Hanya saja kita terlihat seperti belum matang. Amerika membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses mereka menjadi negara demokrasi yang sehat. India juga adalah contoh sebuah negara yang sampai hari ini terus berproses dalam menuju iklim demokrasi yang baik. Indonesia sendiri merupakan negara terbesar ketiga yang masuk dalam demokrasi penuh sementara negara-negara yang lain masih berkutat dalam sistem demokrasi terpimpin dimana kita juga pernah menganut sistem ini dalam apa yang dahulu kita kenal sebagai demokrasi Pancasila. Namun satu hal adalah, kita harus terus maju dalam proses ini karena saya yakin satu hari kelak, kita juga bisa memiliki sebuah pemerintahan yang baik dalam iklim demokrasi yang sehat.

            Pemerintah yang baik dalam kaca mata saya adalah pemerintah yang bisa secara penuh menjalankan konstitusi yang sudah disepakati bersama dalam suatu negara. Dalam hal ini Indonesia memiliki Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kedua pilar konstitusi ini sudah sangat teramat baik bagi kita. Yang sekarang diperlukan adalah sebuah konsistensi dari pemerintah untuk melaksanakannya dengan benar. Dan dalam hal inilah, peran politisi Kristen akan sangat besar dalam mempengaruhi sistem pemerintahan yang sekarang ini berjalan. Peluang untuk memberikan pengaruh sesungguhnya sangatlah besar. Persoalannya adalah apakah kita sadar dengan status kita sebagai pelayan Tuhan di bidang kepemerintahan atau tidak. Memang ini bukan sesuatu hal yang mudah karena kita dikelilingi oleh sebuah sistem dimana nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan akan selalu berjalan melawan arus. Namun sekali lagi, hal ini sangat bisa untuk dilakukan.

            Selama hampir lima tahun menjadi bagian integral dari sebuah sistem di DPR, menurut saya hal terpenting untuk dilakukan adalah menjadi contoh dan teladan. Hal ini jauh akan lebih efektif jika berbicara menjadi terang. Tidak ada gunanya kita menggurui dan berteriak jangan korupsi dan sebagainya, jika hidup kita tidak bisa menjadi penutan. Ingat bahwa untuk dapat memberikan pengaruh dalam pemerintahan, maka perbuatan harus selalu berbicara lebih keras dari pada perkataan. Ini adalah kunci utama.

             Ada beberapa prinsip yang saya anut untuk menjadi terang di dunia pemerintahan. Hal-hal tersebut adalah kasih, tidak sombong dan berhikmat. Ketika kita melakukan hal-hal ini, maka suara kita akan mulai didengar. Pengaruh akan mulai tertanam. Ini adalah salah satu cara buat kita yang memang secara jumlah tidak seperti mereka. Ada yang memakai istilah minoritas untuk hal ini. Satu kebiasaan yang selalu terjadi di DPR adalah proses voting (pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak). Orang berpikir bahwa politisi Kristen tidak bisa berbuat banyak jika suatu masalah berujung pada tahap ini. Ini adalah pendapat yang salah. Ketika demokrasi benar-benar dilakukan, maka istilah mayoritas atau minoritas tidak berlaku lagi. Kita bisa melakukan argumentasi. Sayangnya ada banyak yang ketika sampai dalam tahapan ini, malah menjadi sombong. Banyak yang dijangkiti dengan penyakit power syndrome (kekagetan ketika berada di posisi penting). Akibatnya adalah muncul rasa bangga yang berlebihan ketika menjadi pemimpin dan wakil rakyat. Akhirnya hal itu membuat banyak orang tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata hikmat dan bijak yang seharusnya ditunjukkan oleh anak-anak Tuhan. Dampak selanjutnya adalah apa yang kita utarakan akan menjadi sama seperti apa yang orang dunia sampaikan. Kita tidak memiliki kelebihan apa-apa sebagai anak-anak Raja. Jadi kembali lagi bahwa jika kita berbicara dengan sopan, santun, tidak sombong, berkualitas, berwibawa dan yang terutama dipimpin oleh Roh Kudus, maka setiap apa yang kita katakana akan sangat berdampak besar.

            Saya bisa berbicara hal seperti ini karena saya sendiri mengalaminya. Ketika konflik Timur Tengah antara Israel dan Hamas kembali berkecamuk, setiap rapat paripurna DPR yang membahas masalah ini, pasti akan dipenuhi dengan kutukan, cacian dan kecaman terhadap Israel. Namun dalam sebuah rapat paripurna, saya tiba-tiba saja berdiri dan berkata seperti ini,” Saat ini bukan jamannya lagi untuk melontarkan kutukan dan kecaman atas bangsa Israel. Waktunya sekarang untuk mengambil langkah nyata jika Indonesia benar-benar serius ingin mengambil peran dalam perdamaian Timur Tengah dengan menjadi penengah kedua pihak yang bertikai. Dan sebagai penengah, kita tidak mungkin bisa mencapai hasil positif jika kita hanya memiliki hubungan diplomatik dengan salah satu pihak yaitu Palestina.” Semua terkejut mendengar saya berbicara seperti itu. Apalagi jelas bahwa saya mengisyaratkan untuk Indonesia segera membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

            Apa yang sesungguhnya terjadi hari itu adalah, semua perkataan saya tidak direncanakan sebelumnya. Tuhan memberikan saya kata-kata hikmat dalam menyampaikan pesan tadi. Saya memang berdoa dari pagi hari sebelum rapat paripurna dimulai dan meminta kepada Tuhan untuk diberikan perkataan yang tepat di situasi yang tepat juga. Dan itulah yang terjadi, semua bukan karena kelihaian saya sebagai seorang politisi. Semua hanya karena Tuhan. Mujizat kemudian terjadi. Apa yang saya kemukakan didengar dan diterima oleh kawan-kawan yang lain. Ada memang sebagian anggota dewan yang meneriaki saya, namun di saat yang sama sebagian lain juga memberi dukungan dengan tepuk tangan. Tentu saja ada suatu perjuangan yang bergejolak dalam hati saya ketika hendak berbicara seperti demikian, di tengah sebuah forum yang dikuasai oleh orang-orang radikal seperti mereka. Jujur saja, ketakutan itu ada. Pikiran-pikiran seperti tidak perlu menjadi pahlawan kesiangan, juga sempat terlintas. Tapi panggilan nurani sebagai seorang wakil rakyat, itulah yang mendorong saya untuk berbicara dengan segala pertaruhannya.

             Sebagai efek dari pernyataan sikap saya tadi, saya disalami oleh kawan-kawan dari partai-partai yang beraliran islam garis keras. Kejutan lain kemudian terjadi dimana saya diundang oleh teman-teman dari partai Islam termasuk juga Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk melakukan diskusi mengenai hal ini. Hasil dari diskusi ini diputuskan bahwa saya dan salah seorang politisi PKS dikirim untuk berangkat ke Iran untuk melakukan beberapa negosiasi. Ini adalah karya Tuhan ketika kita sebagai politisi bergantung sepenuhnya kepada Dia. Kenapa saya yang dikirim ke Iran sementara partai-partai Islam lain berusaha untuk mengambil posisi saya. Yang hendak saya katakan adalah jangan kuatir jika kita selalu dipimpin oleh Roh Kudus. Meskipun di tengah situasi yang sangat menakutkan, kita para politisi Kristen dapat mengambil arah yang lain. Saya katakana lagi bahwa hikmat mutlak diperlukan dan inilah identitas kita sebagai politisi Kristen.  Yang perlu diingat adalah untuk mendapat hikmat maka kita harus hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Amsal berkata bahwa permulaan pengetahuan adalah rasa takut akan Tuhan dan tidak sombong. Jika kita mengandalkan hikmat manusia, maka saya katakan bahwa di DPR ada banyak professor, doktor dan master yang jenius. Lantas siapa kita yang kebanyakan adalah pendatang baru dalam lika liku di DPR?  Itulah sebabnya saya katakan bahwa kita harus terus hidup dalam tuntunan Tuhan Yesus sendiri.

            Suatu hari ketika saya masih sebagai wakil ketua Komisi VI DPR, saya diharuskan memimpin rapat untuk membahas sesuatu yang sangat genting. Kenapa genting, karena masalah itu berhubungan dengan bisa dipecatnya presiden dari posisinya. Dua partai politik besar sedang bertikai, dan saya bertanggung jawab untuk menyeselaikan sengketa ini. Saya berdoa meminta hikmat bagaimana saya harus berbicara di depan orang-orang yang sudah mulai panas itu. Benar saja, rapat berlangsung dalam situasi yang sangat panas sejak jam sembilan pagi sampai jam setengah sebelas malam. Pejabat setingkat menteri saja sudah mulai diteriakin dan ditunjuk-tunjuk karena kedua pihak merasa tidak puas. Singkat cerita, saya bisa menyelesaikan rapat itu dengan kedua belah pihak yang bertikai merasa puas dengan usulan saya.

             Kata kunci yang lain adalah otoritas yang tidak lain hanya bisa saya dapatkan dari Tuhan Yesus sendiri.  Saya memang tidak bisa lari dari hal ini. Dari awal sebelum masuk menjadi anggota DPR, saya betul-betul bergumul kepada Tuhan. Seluruh keluarga saya pun mendukung  dalam pergumulan ini. Terus terang sebagai seorang pengusaha, masuk ke dunia politik itu berarti kehilangan banyak teman karena keberadaan kita yang menjadi sepertinya saja kelihatan eksklusif. Belum lagi mereka yang buru-buru menutup diri karena saya berasal dari partai Kristen. Namun Tuhan itu luar biasa. Yang terjadi adalah sebaliknya dimana saya justru mendapat banyak dukungan dari teman-teman termasuk mereka yang bukan beragama Kristen.

           Oleh sebab itu, menjadi wakil rakyat bukan pekerjaan asal-asalan. Sebaliknya, merupakan sebuah tanggung jawab yang harus dipikul untuk kembali dipertanggung-jawabkan kepada masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu sangat penting untuk terus hidup dalam kebenaran, sehingga kita tidak akan terseret arus. Korupsi bisa saja terjadi di kiri dan kanan kita, namun kita tetap berdiri teguh dan tidak terpengaruh. Hal penting yang hendak saya sampaikan adalah jangan pernah kompromi. Sekali kita melakukan kompromi, maka akan sulit buat kita untuk keluar dari jerat ini dan itu berarti tamatlah riwayat kita. Kredibilitas hancur dan kepercaaan orang terhadap kita menguap, tidak peduli seberapa keras kita nantinya berbicara.

            Dalam menempatkan diri sebagai seorang anak Tuhan di tengah-tengah anggota DPR yang lain, saya bisa katakan bahwa saya sangat menikmati waktu-waktu seperti itu. Mengapa demikian, karena itu berarti terang kita dapat bercahaya. Pelita itu tidak untuk diletakkan di bawah gantang. Perbedaan kita sebagai seorang anak Tuhan pun akan terlihat dengan jelas dengan standarisasi etika moral yang tinggi dan teruji. Saya bahkan sampai kepada suatu titik dimana saya tidak lagi takut untuk kehilangan jabatan, status serta gengsi sebagai seorng anggota DPR pusat.

            Tidak berarti ini semua berlalu tanpa tantangan. Di masa-masa awal saya ada di DPR, banyak yang mentertawakan idealisme yang saya bawa sebagai seorang wakil rakyat. Seperti domba di tengah serigala, demikian keadaan saya waktu itu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, hasil perkerjaan saya merupakan sesuatu yang teruji. Dari mula pertama duduk di DPR sebagai ketua komisi VI sampai bisa masuk ke komisi I, semua adalah proses panjang dalam maksud agung Tuhan ketika memanggil saya untuk posisi ini. Yang saya tahu adalah ketika saya menabur kebenaran maka saya akan menuai kebenaran.

             Ketika saya menabur kasih, saya juga akan menuai kasih. Dan ketika saya menabur wibawa, saya juga akan menuai wibawa. Buat saya, menjadi pandai tidaklah cukup. Lebih dari pandai, seseorang harus berhikmat. Ketika orang banyak berpikir bahwa berhikmat sudah cukup, itu pun salah juga. Ada tingkatan tertinggi yaitu menjadi orang yang dipimpin oleh Roh. Sebagai politisi Kristen, seharusnya kita berada di posisi ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------      

Constant Ponggawa SH, LL, M, adalah anggota DPR RI periode 2004-2009 yang berasal dari Partai Damai Sejahtera. Saat ini masih menjabat sebagai Ketua Fraksi PDS di DPR serta Wakil Ketua Komisi VI DPR yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi serta standarisasi nasional. Saat ini hidup bersama isteri Andromeda Ponggawa dan dikaruniai tiga orang anak masing-masing Thanya Ponggawa, Priska Ponggawa dan Josha Ponggawa.



   
home | news | columnis | cover story | subscription | contact us | Login Email Charisma