HOME    INFORM    COVER STORY    COLUMNIS    SUBSCRIPTION    SPONSORSHIP    CONTACT US   
COLUMNIS
» Seperti Sarang Laba-Laba
» Believe Or Trust
» Orangtuaku Melarang Hubunganku
» Apakah Allah Kecewa Terhadap…
» Rayap Rohani

Bergairah dengan Tuhan

Jellia Puspa Purnama

 

Laodikia ialah suatu kota yang saat ini sudah tidak ada lagi, namun pada zamannya Laodikia merupakan sebuah kota yang sangat maju. Bayangkan saja Laodikia merupakan salah satu kota pusat perbankan dan keuangan di dunia ini, lalu merupakan salah satu kota penghasil kain wol terbaik di dunia, juga merupakan salah satu pusat ilmu kedokteran terkemuka dimana Laodikia merupakan produsen salep mata yang sangat terkenal. Bisa dibayangkan seperti apa tingkat perekonomian dari penduduk kota Laodikia, namun terhadap jemaat di Laodikia, Tuhan mengatakan Wahyu 3:15-16 “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” 

 

SUAM-SUAM KUKU

Tuhan menegur jemaat Laodikia bahwa hubungan mereka dengan Tuhan bersifat suam-suam kuku, artinya tidak panas dan juga tidak dingin, sehingga Tuhan akan memuntahkan mereka dari mulut-Nya. Teguran ini sesungguhnya tidak hanya ditujukan bagi jemaat Laodikia saja namun juga bagi kita semua. Seperti apakah saat ini kadar hubungan kita dengan Tuhan? Apakah kita suam-suam kuku dengan Tuhan, tidak bergairah, tidak panas menjalani hubungan dengan Tuhan?

 

            Salah satu ciri orang yang suam-suam kuku ialah tidak bergairah untuk beribadah dengan Tuhan, baik itu untuk beribadah hari Minggu di gereja, saat teduh di pagi hari, doa pribadi, mengikuti kegiatan persekutuan. Padahal jikalau kita bergairah dengan Tuhan, maka itu akan seperti saat kita sedang jatuh cinta dengan seseorang, kita tidak akan mengenal kata cape, sibuk atau malas untuk berjumpa dengan orang yang kita cintai. Ada kegairahan cinta yang membuat kita begitu antusias bahkan tidak sabar untuk berjumpa dengan orang yang kita kasihi. Pertanyaannya sekarang ialah seperti apakah kegairahan kita untuk berjumpa dengan Tuhan baik dalam ibadah korporat maupun pribadi, jika kita merasa biasa-biasa saja bahkan merasa jenuh atau bosan, itu berarti kita telah termasuk dalam golongan orang yang suam-suam kuku dengan Tuhan.

 

MENGAPA BISA MENJADI SUAM-SUAM KUKU?

Pernyataan Tuhan akan memuntahkan orang yang suam-suam kuku karena Tuhan merasa aneh jika ada orang yang berhubungan dengan-Nya tapi merasa suam. Kalau begitu apa penyebab seseorang bisa menjadi suam dengan Tuhan?

1.       Mata yang Teralihkan oleh Dunia

Dikarenakan kota Laodikia yang demikian maju, maka dapat dipastikan penduduk kota Laodikia rata-rata ialah orang-orang yang sibuk menekuni dunia bisnis. Kemungkinan karena mereka begitu sibuk, maka mereka mulai tidak mengutamakan hubungan dengan Tuhan sebagai prioritas kehidupan mereka, inilah yang menjadi salah satu penyebab mereka menjadi suam dengan Tuhan. Saudara, berhati-hatilah dengan kesibukan, karena sering kali itulah yang mencuri waktu kita yang berharga dengan Tuhan. Dunia memang bertambah canggih, tapi fakta membuktikan segala kemudahan yang dunia tawarkan tidak membuat kita semakin santai. Dunia bisa mengalihkan perhatian kita yang seharusnya ditujukan hanya kepada Tuhan.

 

                Daya pikat dunia bisa membuat banyak dari kita menaruh rasa aman pada apa yang ada di dunia ini. Kita merasa aman kalau memiliki uang, semakin banyak uang yang kita miliki kita merasa semakin aman. Akibatnya kita lebih mengutamakan uang dibanding Tuhan dalam hidup kita. Padahal fakta menunjukkan ada begitu banyak orang bergelimang harta, namun tetap merasa hampa dalam dirinya. Mungkin juga kita berpikir kalau kita memiliki sahabat, pasangan hidup, keluarga, maka kita akan merasa aman, tapi fakta menunjukkan ada banyak orang memiliki sahabat, pasangan hidup bahkan keluarga tetap merasa hampa.

 

                Justru semakin kita mengejar dunia ini, semakin kita merasa hampa. Semakin kita sibuk dengan segala urusan di dunia ini, semakin kita tidak merasakan damai dan sukacita yang sejati. Kita malah merasa suam dan tidak bergairah lagi. Berhati-hatilah dengan perangkap ini.

 

2.       Berhubungan dengan Tuhan seperti hubungan dengan pedagang toko

Karena jemaat Laodikia terbiasa dengan dunia perdagangan, maka mereka mungkin mulai memperlakukan Tuhan seperti pedagang toko. Jadi mereka hanya datang pada Tuhan jika mereka mengharapkan mendapatkan sesuatu dengan Tuhan. Dan karena mereka pebisnis yang hebat-hebat maka mereka berpikir mereka bisa membeli kebaikan Tuhan dengan apa yang mereka miliki. Itulah sebabnya dalam Wahyu 3:17-18 “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.”

 

                Dalam ayat di atas Tuhan seperti menantang jemaat di Laodikia untuk menawarkan sesuatu untuk membeli segala yang Tuhan punya, karena jemaat di Laodikia lebih sibuk memperkaya dirinya dengan hal-hal dunia ini dan bukan dengan hubungan dengan Tuhan. Padahal sesungguhnya tidak ada satu halpun di dunia ini yang bisa membeli kemuliaan (emas), kekudusan (pakaian lenan) dan pengurapan (minyak), itu hanya bisa dianugerahkan oleh Tuhan.

 

SOLUSI SUAM-SUAM KUKU

Wahyu 3:19-20 “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Solusi agar kita tidak lagi suam-suam kuku dengan Tuhan bukanlah kita hanya baru datang kepada Tuhan setelah kita merasa mampu membeli kebaikan Tuhan dengan amal perbuatan baik kita sebab tidak ada satu halpun yang sanggup kita bayarkan kepada-Nya untuk mendapatkan kemuliaan, kekudusan dan pengurapan.

 

                Jadi solusinya ialah relakan hati dan bertobatlah untuk menerima teguran dari Tuhan, akuilah di hadapan-Nya bahwa kita memang suam dan jangan merasa diri hebat dan kuat. Kemudian lihatlah sesungguhnya Tuhan sudah dari sejak waktu yang tidak kita sadari mengetuk pintu hati kita, Dia ingin masuk dalam hidup kita dan membangun hubungan yang kekal bersama-sama dengan kita. Tuhan tidak mau berhubungan dengan kita seperti seorang penjual dan pembeli, tapi Dia ingin hubungan yang akrab dan intim seperti seorang Bapa dengan anak-Nya, seorang sahabat dengan sahabat karib-Nya, seorang mempelai dengan mempelai-Nya.

 

                Hari-hari ini seperti apakah hubungan kita dengan-Nya? Jika suam, akuilah itu di hadapan Tuhan dan lihatlah sesungguhnya Dia telah melakukan pendamaian lewat perbuatan kasih-Nya di kayu salib dan Dia merindukan untuk bisa berhubungan akrab dengan kita. Saudara, mari kita masuki hubungan yang penuh kegairahan dengan Tuhan, mintalah pertolongan Roh Kudus untuk terus menyalakan api kegairahan cinta Tuhan dalam hidup kita, mintalah Dia menyadarkan kita akan begitu besar kasih-Nya kepada kita. Bagian kita ialah terus menginginkan Dia lebih dari apapun juga karena hanya Dialah yang sanggup memuaskan segala kehampaan dalam hidup kita. Tuhan memberkati.



   
home | news | columnis | cover story | subscription | contact us | Login Email Charisma