Apakah Allah Kecewa Terhadap Saya
Ps. Yusuf Rachman
Banyak orang yang sering kali bertanya-tanya dalam hidupnya, apakah Allah kecewa terhadap saya karena saya telah melanggar komitmen saya? Apakah Allah tetap mau berhubungan dan mengasihi saya? Banyak orang yang terkurung dengan pertanyaan ini dalam hidupnya dan mereka merasa bahwa jawabannya ialah Allah kecewa karena dirinya tidak mampu berbuat seperti yang Allah harapkan lalu akhirnya mereka memilih untuk mundur dari Allah karena berpikir bahwa Allah tidak mengasihi dia lagi. Namun apa kebenarannya?
BERDASAR PADA KASIH
1 Yohanes 4:8 “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” Allah sendiri memerintahkan kepada kita untuk hidup saling mengasihi, sebab jika tidak, itu artinya kita tidak mengenal Allah. Jika demikian terlebih lagi Allah terhadap kita, Dia adalah kasih, Dia bukan hanya melakukan tindakan kasih tapi Dia adalah sang kasih itu sendiri. Jadi hubungan yang Allah buat dengan kita itu didasarkan pada kasih.
Dalam Efesus 3:18-19, Rasul Paulus menyatakan untuk kita memahami dan mengenal kasih Kristus itu. Kata mengenal dalam bahasa aslinya ialah ginōskō yang artinya personal experience, mengalami pengalaman pribadi dengan kasih Kristus, itulah yang menjadi kerinduan hati Allah, yaitu setiap manusia mengalami pengalaman pribadi dengan kasih-Nya. Kasih yang ingin Allah untuk kita alami secara pribadi ialah bukan bentuk kasih yang biasa-biasa melainkan kasih agape.
Kasih agape ialah kasih yang tidak bersyarat, kasih yang sungguh memberi dan tanpa pamrih. Salah satu penjelasan terindah tentang kasih agape ialah terdapat dalam 1 Korintus 13:4-7 “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”
Nah di atas dasar kasih itulah Tuhan membangun hubungannya dengan kita, bahkan Dia ingin kita mengalami secara pribadi kasih agape yang adalah Allah sendiri.
PENGKHIANATAN KITA TIDAK MENGUBAH KASIH KRISTUS
Jika demikian maka Allah sesungguhnya tidak pernah kecewa terhadap kita, kasih Agape ialah kasih yang sabar, tidak menyimpan kesalahan dan tidak pemarah, malahan karena Allah adalah kasih, Dia dengan sabar senantiasa menunggu kita menanggapi kasih-Nya.
Masih ingatkah Saudara akan kisah Petrus? Dalam Lukas 22:24-34, di situ Petrus berkata bahwa, "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" Namun dalam Lukas 22:54-62, belum berselang satu hari, Petrus sudah menyangkal Yesus sampai dengan tiga kali. Dia mengaku tidak mengenal Yesus saat ada orang-orang yang mengenal dia sebagai murid Yesus. Sungguh sebuah tragedi yang sangat memilukan bagi Yesus jika dilihat dari kacamata manusia. Sebuah perbuatan yang akan sangat membuat hati kecewa.
Tapi Allah adalah kasih, Allah adalah Agape, Dia sabar, Dia tidak menyimpan kesalahan, Dia tidak pemarah, Dia murah hati. Dalam Yohanes 21, Yesus menampakkan diri kepada Petrus, kepada murid-murid-Nya yang telah mengkhianati Dia. Bahkan saat menampakkan diri, Yesus tidak menghakimi atau memarahi Petrus sebaliknya Dia mengadakan mujizat, menghidangkan makanan bagi murid-murid-Nya. Dan yang terlebih istimewa lagi, Dia tetap memberikan otoritas penggembalaan kepada Petrus.
Dari kisah Petrus, kita dapat melihat bahwa kasih Allah terlalu amat besar, panjang, lebar, luas dan dalamnya sehingga tidak sanggup dikecewakan oleh pengkhianatan yang mungkin kita lakukan terhadap-Nya.
KEGAGALAN KITA TIDAK MENGUBAH KASIH KRISTUS
Dalam Lukas 15:11-24, kita melihat juga betapa dahsyatnya kasih Allah itu. Terhadap anak yang hilang yang telah memboroskan harta miliknya yang dia peroleh lewat pembagian harta kekayaan ayahnya, hingga akhirnya sampai untuk memakan ampas yang menjadi makanan babipun tidak dapat, terhadap anak yang hilang ini kasih Allah sungguh luar biasa.
Saat anak yang hilang ini kembali kepada ayahnya, maka saat ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Belas kasihan disini kata aslinya ialah splagchnizomai artinya bukan sekedar merasa kasihan, tapi suatu belas kasihan yang amat sangat sampai terasa begitu memilukan di hati. Karena itu ayahnya sampai berlari, merangkul dan mencium si anak yang hilang itu, padahal anak yang hilang itu belum melakukan pengakuan dosa apapun. Lalu apakah ayahnya kemudian memukulnya dan menghukumnya? Sebaliknya ayahnya memberikan jubah yang terbaik, cincin dan sepatu. Lalu diadakan pesta bagi si anak yang hilang itu.
Inilah kasih agape yang Kristus ingin kita mengalaminya secara pribadi. Kasih yang tidak bersyarat, kasih yang begitu hangat, kasih yang senantiasa memberikan yang terbaik, kasih yang menutupi kesalahan, kasih yang memulihkan. Sungguh semakin kita merenungkan kasih Kristus, kita akan semakin menemukan betapa besarnya kasih Allah itu sehingga tidak ada kesalahan yang terlalu besar untuk membuat Allah kecewa dan tidak mau menerima kita kembali.
Hari ini, mari jadikan kasih agape Allah ini sebagai dasar kita berhubungan dengan-Nya. Tetaplah intim di dalam kasih-Nya.
|